Jumat, 11 November 2016

Tradisi Yang Ada Disoppeng


Disoppeng terdapat beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat soppeng itu sendiri diantaranya Maddoja Bine,Mappadendang,Menre’ Bola Baru,dll.
1.  Mappalili
Mappalili (Bugis) atau Appalili (Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan mengganggu atau menghancurkannya. Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat Sulawesi Selatan, masyarakat dari Kabupaten Barru terutama Mappalili adalah bagian dari budaya yang sudah diselenggarakan sejak beberapa tahun lalu. Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi. Tujuannya adalah untuk daerah kosong yang akan ditanam, disalipuri (Bugis) atau dilebbu (Makassar) atau disimpan dari gangguan yang biasanya mengurangi produksi. Mappalili memiliki sesuatu yang menggambarkan karakteristik dari masyarakat Barru sepenuhnya. Pada pelaksanaan pembangunan upacara Mappalili di setiap kecamatan masih menggunakan beberapa peralatan yang digunakan sejak beberapa tahun lalu. Penggunaan peralatan harus melalui ritual adat yang melibatkan leade kustom, sosialita, dan beberapa pemerintah. Oleh karena itu, aktivitas upacara Mappalili di setiap kecamatan dapat berbeda sesuai dengan waktu dan jenis ritual pelaksanaannya. Mappalili / Appalili dapat disimpulkan sebagai peralatan atau alat pemersatu dan sumber kerja sama maka dapat meningkatkan produksi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2.  Maddoja Bine
Maddoja Bine atau ritual sebelum menanam benih masih terjaga di Desa Timusu Kecamatan Liliriaja,Kabupaten Soppeng,Sulawesi Selatan.Bahkan ritual ini biasanya dilakukan tersendiri,namun petani yang bermukim di Desa Timusu melakukan ritual tersebut secara bersama-sama dan dikemas dalam acara pesta adat di Lapangan Lagoci,Desa Timusu,Kecamatan Liliriaja,Kabupaten Soppeng, Sulsel.Kekompakan warga nampak dengan berbondong-bondong membawa ragam makanan dan kue tradisional serta hasil bumi sebagai sajian dalam ritual tersebut.
Maddoja Bine merupakan ritual yang dilakukan sejak nenek moyang dahulu dan dilakukan secara turun temurun sampai sekarang, ini rutin dilakukan sebelum menanam disawah,agar padi tumbuh subur dan kelak hasil panen melimpah dan berhasil.
2.       Menre’ Bola Baru
Menre' Bola Baru Dilaksanakan dengan tujuan agar rumah tersebut mendapat keselamatan bagi semua penghuninya.Upacara menre bola baru ini merupakan pemberitahuan kepada sanak saudara dan para tetangga bahwa rumah ini telah selesai dibangun.Pada menre’ bola baru ini yang perlu dipersiapkan adalah pattapi,pakkeri saji atau semua alat yang dianggap tidak rusak pada saat tiba pelaksanaan upacara serta mempersiapkan kue tradisional.
Pada hari “H” upacara menre’ bola baru dilakukan ditengah rumah(possi bola)yang baru dibangun.posisinya ditentukan oleh sandro bola(dukun rumah).Possi bola itu dibungkus dengan kain putih sebagai pertanda bahwa ditiang itulah sebagai pusat ritual yang akan dilakaukan dan peralatan ritual disimpan disekitar possi bola itu.
3.       Mappadendang
Acara Mappadendang (Pesta Panen Adat Bugis soppeng).Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta tani pada masyarakat soppeng merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilan dalam menanam padi kepada yang maha kuasa Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadaakan dalam rangka besar-besaran.Yakni acara penumbukan gabah pada lesung dengan tongkat besar sebagai penumbuknya.Acara mapadendang sendiri juga memiliki nilai magis yang lain.Disebut juga sebagai pensucian gabah yang dalam artian masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusianya.Olehnya perlu dilakukan pensucian agar lebih berberkah.Acara semacam ini tidak hanya sekedar menumbuk saja.Alur ceritanya bahwa para ibu-ibu rumah tangga dekat rumah akan diundang lalu mulai menumbuk.Dengan nada dan tempo yang teratur,ibu-ibu tersebut pun kadang menyanyikan beberapa lagu yang masih terkait dengan apa yang mereka kerjakan.Sedangkan anak-anak mereka bermain disamping atau pun dibawah rumah.
Acara adat ini dulu umumnya dilakukan oleh masyarakat-masyarakat di berbagai daerah,begitu selesai mereka lalu menjemur dibawah terik matahari.kegiatan ini merupakan hal yang sangat sering dilakukan oleh para petani orang bugis.Dikenal juga Manre ase baru yang merupakan lanjutan setelah mappadendang.
Mappadendang merupakan upacara syukuran panen padi dan merupakan adat masyarakat bugis sejak dahulu kala.Biasanya dilaksanakan setelah panen raya biasanya memasuki musim kemarau pada malam hari saat bulan purnama.Pesta adat itu diselenggarakan dalam kaitan panen raya atau memasuki musim kemarau.Pada dasarnya mappadendang berupa bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padi.Komponen utama dalam acara ini yaitu 6 perempuan, 3 pria, bilik Baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional yaitu baju Bodo.

Budaya yang terkait dengan keagamaan 1.Aqiqah AQIQAH dalam agama Islam merupakan penyembelihan kambing bagi bayi yang baru lahir, satu ekor kambing untuk perempuan dan dua ekor kambing untuk laki-laki yang dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran bayi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt atas rahmat kelahiran sang buah hati tersebut. Di Indonesia, ritual aqiqah ini kerap dipadukan dengan tradisi dan kearifan lokal sehingga menjadi sebuah peristiwa yang menarik dan penuh makna. Bayi yang baru lahir tersebut disediakan dua ekor ayam yang masih muda yang menjadi simbol bayi diharapkan bisa bertumbuh dengan baik dan cepat serta sebutir telur ayam yang menjadi pengharapan asupan gizi sang bayi selama pertumbuhan selalu terjaga. Untuk lebih mengenalkan diri dengan lingkungan, saat prosesi aqiqah, dahi bayi dan ibunya pun disentuhkan dengan ayam-ayam tersebut. Selain itu disediakan pula sebuah kelapa muda yang dibuka dan airnya digunakan untuk membasahi gunting guna memotong rambut sang bayi. Kelapa muda melambangkan sebuah kesegaran, kemudaan, dan kesehatan yang diharapkan selalu menyertai kehidupan anak yang dilahirkan tersebut. Sebelas lilin kecil merupakan simbol agar kehidupannya selalu diliputi jalan terang. 2.Mabbarasanji Tradisi pembacaan kitab Barzanji sebenarnya bukanlah hal yang wajib dilakukan oleh umat Islam atau pun sebuah ritual yang harus dilakukan di setiap hari kelahiran Nabi. Barzanji hanya dilakukan untuk mengambil hikmah dan meningkatkan kecintaan umat terhadap nabinya, menjadikannya suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi Barzanji di Indonesia sudah merupakan hal yang lazim dilakukan oleh masyarakatnya. Pembacaan kitab Barzanji pun tidak hanya dilakukan pada saat perayaan hari kelahiran nabi saja, tetapi juga dilakukan ketika merayakan kelahiran anak, khitanan, perkawinan, dan sebagainya. Tujuannya memohon berkah kepada Allah agar apa yang dihajatkan terkabul. Pembacaan Barzanji merupakan bentuk budaya Islam, sedangkan jenis makanan yang disajikan sebelum dan saat pembacaan Barzanji pada upacara Menre Aji merupakan bentuk kebudayaan pra-Islam. Jenis makanan tersebut juga tidak begitu beda dengan sajian makanan perayaan masyarakat to-Lotang yang bukan Islam.Tradisi Barzanji masyarakat Bugis. memang unik dibanding tradisi Barzanji yang dilakukan oleh masyarakat di daerah lain yang ada di Indonesia. Keunikannya terletak pada Barzanji yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat, yang harus dilaksanakan di setiap upacara adat mereka, serta adanya akulturasi Islam dan pra-Islam pada tradisi tersebut. Hal inilah yang menarik untuk diteliti dan diadakan penelusuran lebih jauh mengenai tradisi Barzanji. Hal ini terjadi pula pada Perayaan Hari - hari besar islam dengan nuansa dan warna sinkretisme, seperti perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dengan rentetan acaranya sebagai berikut : appakarammula, ammone baku, ammode’ baku, angngantara kanre maudu’, pannarimang kanre maudu’, a’rate (assikkiri’), pammacang salawa, pattoanang, pabbageang kanre maudu. Perayaan hari-hari besar islam yang juga menghadirkan pembacaan “zikkiri – barazanji”, selain Maulid Nabi adalah : Isra Mi’raj, Sepuluh Muharram, bahkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masih banyak masyarakat menyelenggarakan barzanji atau mengundang “pabaca doang” (Pembaca Doa, biasanya imam kampung atau anrong guru) ke rumahnya untuk membacakan segala jenis dan rupa makanan, yang diiringi bau asap kemenyan. Dalam pandangan agama (Islam), hal tersebut bisa dianggap musyrik (menyekutukan Allah) atau “bid’ah” (tidak ada dalam syariatIslam/tidak_ada_tuntunannya_sebagaimana_yang_pernah_dicontohkan_dalam_kehidupan_Rasulullah_SAW). 3.Mappacci Mappacci adalah kata kerja dari ‘mapaccing’ yang berarti bersih. Terkadang, di beberapa daerah Bugis, mappacci dikenal dengan sebutan mappepaccing. Dalam bahasa Bugis, mappacci/mappepaccing merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan segala sesuatu. Mappepaccing bola sibawa lewureng, yang berarti membersihkan rumah dan tempat tidur. Adapun kata perintahnya ‘paccingi’ yang berarti bersifat menyuruh atau memerintahkan untuk membersihkan. Paccingi kasoro’mu berarti bersihkan kasurmu. Kebanyakan kata kerja dalam bahasa bugis diawali dengan kata ‘Ma’, seperti; maggolo (main bola), mattinju (bertinju), mallaga (berkelahi), mammusu’ (bertempur), makkiana’ (melahirkan), dsb. Kata mapaccing dan mappacci merupakan dua kata yang kalau dilihat sekilas agaknya sama, namun memiliki arti yang berbeda. Yang pertama merupakan kata sifat dan yang kedua kata kerja. Kita sering mendengarkan penggunaan kata ini dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di masyakat Bugis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar