Disoppeng terdapat beberapa
tradisi yang dilakukan oleh masyarakat soppeng itu sendiri diantaranya Maddoja
Bine,Mappadendang,Menre’ Bola Baru,dll.
1. Maddoja Bine
Maddoja Bine atau ritual sebelum menanam benih masih
terjaga di Desa Timusu Kecamatan Liliriaja,Kabupaten Soppeng,Sulawesi Selatan.Bahkan
ritual ini biasanya dilakukan tersendiri,namun petani yang bermukim di Desa
Timusu melakukan ritual tersebut secara bersama-sama dan dikemas dalam acara
pesta adat di Lapangan Lagoci,Desa Timusu,Kecamatan Liliriaja,Kabupaten
Soppeng, Sulsel.Kekompakan warga nampak dengan berbondong-bondong membawa ragam
makanan dan kue tradisional serta hasil bumi sebagai sajian dalam ritual
tersebut.
Maddoja Bine merupakan ritual yang dilakukan sejak
nenek moyang dahulu dan dilakukan secara turun temurun sampai sekarang, ini rutin
dilakukan sebelum menanam disawah,agar padi tumbuh subur dan kelak hasil panen
melimpah dan berhasil.
2.
Menre’
Bola Baru
Menre' Bola Baru Dilaksanakan dengan tujuan agar rumah
tersebut mendapat keselamatan bagi semua penghuninya.Upacara menre bola baru
ini merupakan pemberitahuan kepada sanak saudara dan para tetangga bahwa rumah
ini telah selesai dibangun.Pada menre’ bola baru ini yang perlu dipersiapkan
adalah pattapi,pakkeri saji atau semua alat yang dianggap tidak rusak pada saat
tiba pelaksanaan upacara serta mempersiapkan kue tradisional.
Pada hari “H” upacara menre’ bola baru dilakukan
ditengah rumah(possi bola)yang baru dibangun.posisinya ditentukan oleh sandro
bola(dukun rumah).Possi bola itu dibungkus dengan kain putih sebagai pertanda
bahwa ditiang itulah sebagai pusat ritual yang akan dilakaukan dan peralatan
ritual disimpan disekitar possi bola itu.
3.
Mappadendang
Acara Mappadendang (Pesta Panen Adat Bugis soppeng).Mappadendang
atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta tani pada masyarakat soppeng
merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilan dalam menanam padi kepada yang
maha kuasa Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadaakan dalam
rangka besar-besaran.Yakni acara penumbukan gabah pada lesung dengan tongkat
besar sebagai penumbuknya.Acara mapadendang sendiri juga memiliki nilai magis yang
lain.Disebut juga sebagai pensucian gabah yang dalam artian masih terikat
dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan
menyatu dengan manusianya.Olehnya perlu dilakukan pensucian agar lebih
berberkah.Acara semacam ini tidak hanya sekedar menumbuk saja.Alur ceritanya
bahwa para ibu-ibu rumah tangga dekat rumah akan diundang lalu mulai menumbuk.Dengan
nada dan tempo yang teratur,ibu-ibu tersebut pun kadang menyanyikan beberapa
lagu yang masih terkait dengan apa yang mereka kerjakan.Sedangkan anak-anak
mereka bermain disamping atau pun dibawah rumah.
Acara adat ini dulu umumnya dilakukan oleh masyarakat-masyarakat
di berbagai daerah,begitu selesai mereka lalu menjemur dibawah terik matahari.kegiatan
ini merupakan hal yang sangat sering dilakukan oleh para petani orang bugis.Dikenal
juga Manre ase baru yang merupakan lanjutan setelah mappadendang.
Mappadendang
merupakan upacara syukuran panen padi dan merupakan adat masyarakat bugis sejak
dahulu kala.Biasanya dilaksanakan setelah panen raya biasanya memasuki musim
kemarau pada malam hari saat bulan purnama.Pesta adat itu diselenggarakan dalam
kaitan panen raya atau memasuki musim kemarau.Pada dasarnya mappadendang berupa
bunyi tumbukan alu ke lesung yang silih berganti sewaktu menumbuk padi.Komponen
utama dalam acara ini yaitu 6 perempuan, 3 pria, bilik Baruga, lesung, alu, dan
pakaian tradisional yaitu baju Bodo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar