Nama : Yunica Damayanti
Nim : 50300115091
Jurusan : PMI Kons. Kesejahteraan Sosial
Angkatan 2015 UIN Alauddin Makassar
1. Empat
Balita “Terlantar” Di Panti Asuhan Tunas Bangsa
Judul : PMKS
(Anak Balita Terlantar)
“Empat Balita “Terlantar” Di Panti Asuhan
Tunas Bangsa”
Waktu : 2 Mei 2017 23.42 WIB
4 Februari 2015 10.55 WIB,Lokasi kejadian di Cipayung Jakarta
Timur
Sumber : Internet berita SindoNews.com
Isi
Berita :
Empat dari sembilan di Panti Sosial
Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa terlantar lantaran belum diketahui
identitas keluarganya.Semuanya itu merupakan hasil dari penjangkauan dan
penemuan di rumah warga.
Hal itu disampaikan Kepala PSAA Balita
Tunas Bangsa Vivi Kafilatul Jannah.Kemudian kata dia,bayi-bayi itu dibawa ke
rumah sakit oleh pihak kepolisian, hingga akhirnya di rujuk ke PSAA Balita
Tunas Bangsa.
Dia menyatakan, pihaknya hingga kini
masih terus mencari sanak keluarga dari anak-anak itu.Selain itu, pihaknya
selalu memberikan perawatan kepada sembilan anak terlantar tersebut.
“Kami juga mengupayakan agar masyarakat
yang merasa memiliki hubungan keluarga dengan anak itu,bisa bertemu dengan balita
terlantar ini.Karena perawatan terbaik adalah perawatan keluarga,panti hanya
alternatif terakhir.”kata Vivi di Jakarta,Rabu (4/2/2015).
Vivi menambahkan,masyarakat yang memang
memiliki hubungan darah dengan bailta tersebut bisa mendatangi langsung PSAA
Balita Tunas Bangsa di Jalan Raya Bina Marga Nomor 79 Cipayung,Jakarta Timur,atau
menghubungi di nomor telpon. 021-8445651.
“Kepada keluarga dan kerabat anak
tersebut,bisa mengambil mereka tanpa biaya perawatan.Asal membawa bukti otentik
sebagai orang tua kandung,”terangnya.
Anak-anak balita tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Mila(perempuan),Anak dari Ibu Karmila
yang tidak diketahui keberadaannya.Hasil rujukan dari Panti Sosial Bina Insan
Bangun Daya 1 pada tanggal 12 November 2014.
2.
Dicki Permana (laki-laki),Anak dari Ibu
Dewi yang tidak diketahui keberadaannya. Hasil rujukan dari Rumah Perlindungan
Sosial Anak (RPSA) Bambu Apus 11 Desember 2014.
3.
Syawal Agustin (laki-laki),Tidak
diketahui keluarganya,ditemukan di pangkalan ojek H Dul Jalan Pedurenan,Kelurahan
Karet Kuningan,Kecamatan Setiabudi, pada tanggal 16 Agustus 2014.
4.
Dini Maharani (perempuan),Tidak
diketahui keluarganya,ditemukan di teras rumah warga Kelurahan Tengah,Kecamatan
Kramat Jati,Jakarta Timur.Dirujuk pada tanggal 30 Oktober 2014 oleh Polsek
Kramat Jati.
5.
Malika Faiza (perempuan),Anak dari
pasangan Ibu Siti Maratun dan Bapak Ririn Setiono dari Jati Bunder,Jakarta
Pusat.Rujukan dari RSIA Budi Kemulyaan pada tanggal 21 Oktober 2014.
6.
Riswana Salsabila (perempuan),Anak dari
Ibu Anisah dan Bapak Fajar Eko Yulianto dari Kelurahan Tanjung Duren, Jakarta
Barat.Rujukan dari RSIA Budi Kemulyaan pada tanggal 22 Desember 2014.
7.
Habibi Syauqi
(laki-laki),Tidak diketahui keluarganya.Rujukan dari Polres Sawah Besar,
Jakarta Pusat.
8.
Topan (laki-laki),Tidak
diketahui keluarganya, hasil penjangkauan Satpol PP Kecamatan Gambir, dan
dibawa ke PSBI BD 1 kemudian dirujuk ke PSAA Balita Tunas Bangsa pada tanggal
15 Januari 2015.
9. Arkan (laki-laki),Orang tua dirawat di Panti Sosial Bina Laras
Cengkareng.Hasil rujukan dari RSUD Koja, Jakarta Utara.
Kritik :
Kurangnya perhatian pemerintah mengenai hal penelantaran balita.
Saran :
Ketika pemerintah
mendengar kabar balita terlantar ini sebaiknya pemerintah langsung turun
menangani masalah ini.
2.
Longsor Dan Angin Puting Beliung Kembali Landa Bogor
Judul : PMKS (Korban Bencana Alam)
“Longsor Dan Angin Puting Beliung Kembali Landa Bogor”
Waktu : 3 Mei 2017 22.57 WIB
1 Maret 2017 08.14 WIB,Lokasi Bogor Jawa Barat
Sumber : Internet berita Liputan6.com
Isi Berita :
Longsor dan angin puting beliung
kembali melanda Kota Bogor,Jawa
Barat.Bencana alam terjadi setelah hujan deras disertai angin kencang pada
Selasa sore kemarin.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Kota Bogor melaporkan peristiwa pertama angin puting beliung terjadi di
RT 04/RW 03 Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal.
Dua rumah milik Imah dan Aduh rusak
pada bagian atap akibat diterpa angin kencang.
Tak hanya itu,sejumlah pohon di dekat
rumah warga pun bertumbangan hingga menimpa beberapa rumah warga wilayah
tersebut.Pohon bambu berukuran besar tumbang sampai akarnya.Dan pohon keras
tumbang menutupi jalan warga.
"Tidak ada korban jiwa.Namun
rumah warga rusak akibat tertiup angin dan tertimpa pohon tumbang," kata
Kepala BPBD Kota Bogor,Ganjar Gunawan, Rabu (1/3/2017).
Longsor juga terjadi di Jalan Tentara
Pelajar, Cimanggu, Kecamatan Tanah, Sareal.Longsor mengakibatkan trotoar jalan
amblas hingga kedalaman satu meter.Tak hanya trotoar, pagar milik Balitro
pun rusak tergerus longsor.
Panjang trotoar yang amblas
diperkirakan lebih dari 10 meter. Peristiwa itu terjadi saat hujan mengguyur
kawasan Bogor.
Sebelumnya, 33 kasus bencana alam juga
terjadi di Kota Bogor pada Senin 27 Februari.Peristiwa
didominasi longsor,banjir dan kebakaran.
Tiga warga meninggal dunia, satu
karena tertimbun longsor dan dua orang lainnya terseret banjir akibat luapan
saluran air dari anak Kali Cipakancilan.
Kritik :
Kurangnya perhatian pemerintah terhadap lokasi-lokasi yang rawan
akan bencana longsor
Saran :
Sebaiknya pemerintah mengevakuasi warga yang bertempat tinggal
di daerah yang rawan akan bencana longsor.
3.
Pengakuan Gelandangan Yang
Nyaris Tewas Gara-Gara Hoax
Judul : PMKS (Gelandangan)
“Pengakuan
Gelandangan Yang Nyaris Tewas Gara-Gara Hoax”
Waktu : 4 Mei 2017 00.02 WIB
8 Maret 2017 20.04 WIB,Lokasi Kejadian di Brebes Semarang
Sumber : Internet berita Liputan6.com
Isi Berita :
Seorang gelandangan pria paruh baya
yang menjadi korban amukan masa yang termakan berita bohong atau
hoax masih
tergolek lemah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Brebes,Jawa Tengah sejak
Selasa malam,7 Maret 2017. Kabar
hoax yang membuat warga termakan itu soal
adanya informasi penculikan anak yang dilakukan oleh orang-orang yang
berpura-pura gila.
Korban dirujuk ke RSUD Brebes setelah
sebelumnya mendapat perawatan medis di RS Dera Asyifa Banjarharjo.Dia dirawat
dalam keadaan babak belur usai diamuk massa warga setempat dengan cara yang
keji.
Korban ditangkap dan dianiaya oleh
puluhan warga.Kekejian warga dilakukan dengan menggantung korban seperti hewan
yang hendak disembelih, dengan posisi kedua kakinya diikat sebatang bambu dan
kepala berada di bawah.
Setelah digantung di sebilah bambu,sejumlah
warga memikul tubuh pria paruh baya berpenampilan kumal itu diarak keliling
desa.Semua gara-gara informasi
hoax yang beredar tak terbendung di media
sosial.
Informasi yang diterima
Liputan6.com,pria paruh baya itu bernama Toyo dan
berusia 45 tahun.Dia warga Kuningan,Jawa Barat.Toyo merupakan gelandangan yang
hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan
kaki.
Tak ada bukti bahwa Toyo penculik anak
yang dituduhkan oleh sejumlah masyarakat setempat.Menurut petugas medis yang merawatnya,ia
tidak mengalami gangguan jiwa dan mental.
"Bapak Toyo ini bisa diajak
komunikasi.Ditanya namanya siapa,dari mana, punya keluarga apa tidak,juga nyambung kok," ucap seorang petugas medis
yang namanya enggan disebut di RSUD Brebes, Rabu (8/3/2017).
Gara-gara disangka penculik anak,seorang
gelandangan penderita gangguan jiwa nyaris tewas karena disiksa dan diarak keliling
kampung di Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jateng. (Liputan6.com/Fajar Eko
Nugroho)
Berdasarkan pemeriksaan dokter RSUD
Brebes,korban mengalami luka-luka di bagian kepala dengan diagnosis mengalami
gegar otak ringan, lalu luka di bagian badan dan kaki akibat kekerasan benda
tumpul.
"Ini dari hasil pemeriksaan visit dokter pagi tadi, Pak Toyo mengalami
luka-luka di bagian kepala, lebam di badan, kakinya juga luka dan harus
diperban," ujar petugas medis itu.
Toyo sendiri sempat mau berkomunikasi.
Dia mengaku tidak tahu-menahu perihal penculikan anak yang dituduhkan
kepadanya.
"Demi Allah Swt saya tidak
melakukan itu (penculikan anak), saya berani bersumpah," ucap Toyo sembari
menitikkan air mata.
Menurut dia,tuduhan sebagai pelaku
penculikan anak kepada dirinya merupakan fitnah yang keji dan tidak beralasan.
"Saya ini memang gelandangan
tidak punya rumah. Keluarga saya sudah enggak ada semua, istri sudah meninggal
dan enggak punya anak, tapi (tuduhan penculik anak) itu fitnah," kata dia.
Perihal dia menggelandang juga bukan
berarti dia mengalami gangguan jiwa. Dia juga tidak ada niat untuk mengganggu
warga desa, apalagi sampai mau menculik anak sebagaimana informasi
hoax yang
beredar.
"Bingung mau ke mana, memang
hidup saya jalan-jalan ke mana-mana. Keluarga juga sudah enggak ada
semua," ujar Toyo.
Kritik :
Kurangnya sosialisasi oleh pihak
kepolisian mengenai larangan menghakimi sendiri
Saran :
Sebaiknya warga mencari kebenaran
berita tersebut Dan tidak menghakimi sendiri si pelaku Dan Membawanya ke pihak
yang berwajib untuk diidentifikasi.
4.
Mbah
Sadiyo,Pemulung Yang Ikhlas Menambal Jalan-Jalan Berlubang
Judul : PMKS (Pemulung)
“Mbah Sadiyo,Pemulung Yang Ikhlas Menambal Jalan-Jalan
Berlubang”
Waktu : 5 Mei 2017 22.33 WIB
14 Maret 2017 18.31 WIB,Lokasi di Sragen jawa Tengah
Sumber : Internet berita Liputan6.com
Isi
Berita :
Memikirkan kepentingan bersama
layaknya menjadi sebuah sikap yang mahal harganya pada saat zaman serba
materialis ini.Ikhlas menjadi modal berharga untuk selalu memikirkan
kepentingan bersama.Itulah yang dilakoni Sadiyo Cipto Wiyono,warga Kabupaten Sragen,Jawa Tengah.
Dari sosok lelaki berusia 65 tahun itu
ada sebuah pelajaran berharga dalam zaman yang serba individualis saat ini.
Mbah Sadiyo, begitu sapaan akrabnya, menunjukkan bahwa keikhlasan menjadi buah
kegembiraan dan bermanfaat untuk yang lain.
Hebatnya lagi,Mbah Sadiyo ini adalah
seorang pemulung yang pekerjaannya memungut rongsokan di pinggir jalan.Tak
hanya itu, ternyata kegiatan mulia yang dia lakoni adalah menambal jalan-jalan
rusak yang tidak segera diperbaiki oleh pemerintah.Motivasi utama Mbah Sadiyo untuk
menambal jalan agar orang lain tidak celaka.
Empati Mbah Sadiyo begitu tinggi.
Sifat ini yang membuatnya tergerak menambal jalan rusak. Ihwal menambal jalan
rusak itu berawal saat dirinya juga pernah merasakan musibah akibat jalan
rusak.
Begini kisahnya.Pada 2012,Mbah Sadiyo
begitu membutuhkan uang untuk arisan.Kala itu ia butuh uang Rp 300 ribu.Ia
kemudian menjual rongsokan hasil pencariannya untuk mendapatkan uang.
Mbah Sadiyo kemudian membawa sejumlah
barang rusak itu kepada juragannya.Namun saat di Jalan Gondang,Sragen,ia
berebut jalan halus dengan pengendara sepeda motor.
Setelah memperbaiki jalan itu, ia
kemudian menambal Jalan Tunjungan-Gondang.Ia menambal jalan itu lantaran ada
kabar tetangganya jatuh di jalur tersebut,bahkan harus menjalani opname di
rumah sakit.
Bagi Mbah Sadiyo,menambal jalan rusak
bukan sebuah aktivitas untuk mencari popularitas, melainkan perbuatan penuh
keikhlasan.
"Saestu (benar) saya tidak ingin
cari-cari.Saya ikhlas melakukannya.Saya itu cuma mikirnya,kalau semisal jalan
ditambal paling tidak itu bisa mengurangi kecelakaan," tutur dia.
Mbah Sadiyo menambal jalan saat
dirinya mencari barang rongsok. Jadi di becak yang tiap hari menemaninya
mencari barang rongsok, selalu tersedia pacul,serok, dan semen. Sementara untuk
pasir, ia meminta-minta dari orang yang sedang renovasi rumah.
"Saya itu memang miskin. Insya
Allah hati saya tidak miskin. Saya itu cari rongsok juga bukan dari rumah ke
rumah, tapi di jalan-jalan.Saya menghindari hal tidak diinginkan. Yang penting
saya ini tidak mencuri," kata dia.
Dari hasil kerja memulung, Mbah Sadiyo
hanya mendapatkan duit sekitar Rp 150 ribu selama lima hari. Dari uang itu, ia lalu
membelikan semen satu sak.Sisanya diberikan kepada istrinya untuk makan
sehari-hari.
Ia juga kerap membantu tetangga yang
sedang renovasi rumah.Dari pekerjaan itu, Mbah Sadiyo mendapatkan Rp 50 ribu.
"Enggak apa-apa, pokoknya hidup
seadanya.Yang penting ada beras untuk makan," ujar sang penambal jalan
yang juga menjadi penggali kubur saat ada tetangga yang meninggal itu.
"Jadi saya berebut jalan halus.
Saya waktu itu bawa barang rongsok dengan becak saya ini.Nah yang naik motor
enggak mau mengalah. Akhirnya saya yang mengalah dan becak saya malah
terperosok ke kubangan. Pelek ban saya rusak, jadi angka delapan," Mbah
Sadiyo mengenang.
Berawal dari kejadian pahit itulah, ia
bernazar seandainya punya rezeki, ia akan menambal jalan yang rusak tersebut.Dan
niat baik itu pun ada jalannya.Mbah Sadiyo lalu menambal Jalan Banaran-Gondang,
Sragen, sejauh lima kilometer.
"Saya nambal itu dari tanggal 5
April hingga 11 Juni. Saya nambal itu juga beli pakai uang sendiri, pakai uang
hasil jual rongsok," ucap sang penambal
jalan itu saat ditemui Liputan6.com di rumahnya,kawasan Grasak,RT 42 RW11,
Kecamatan Gondang,Sragen,beberapa hari lalu.
Kritik :
Kurangnya anggaran pemerintah mengenai
perbaikan jalan raya sehingga menyebabkan banyak pengendara yang mengalami
kecelakaan.
Saran :
Sebaiknya pemerintah lebih
memperhatikan perbaikan jalanan raya untuk mengurangi tingkat kecelakaan.
5.
Lapar,Seorang
Ayah Lempar Bayinya Ke Tungku
Judul : PMKS (Korban Tindak Kekerasan)
“Lapar,Seorang Ayah Lempar Bayinya Ke Tungku”
Waktu : 6 Mei 2017 21.27 WIB
25 April 2017 13.51 WIB,Lokasi Kejadian Sukabumi Jawa Barat
Sumber : Internet berita Liputan6.com
Isi
Berita :
Seorang
ayah di Sukabumi,Jawa Barat melempar bayinya
yang baru berusia 1,5 bulan ke dalam tungku panas.Aksi sadis ini dipicu emosi
karena tak kuat menahan lapar.
Pria
warga Kampung Sijngkup,Desa Cisitu,Kecamatan Nyalindung, Sukabumi itu melempar
bayinya ke tungku api karena tak tahan menahan lapar dan emosi melihat sang
istri belum memasak nasi saat pulang bekerja.
Seperti
ditayangkan Liputan 6 Siang
SCTV, Selasa (25/4/2017), sang bayi dilempar sejauh dua meter.
Sang
ibu Yeni yang melihat bayinya terluka langsung membawa anaknya ke puskesmas.Namun
akibat luka yang dideritanya cukup parah,korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Syamsudin Kota Sukabumi.
Warga
yang mengetahui kejadian tersebut langsung mengamankan sang ayah dan menyerahkannya
kepada aparat kepolisian.
Kapolsek
Nyalindung AKP D Majmudin menegaskan,pihaknya hingga kini masih menyelidiki
kasus penganiayan terhadap bayi itu.Ia menduga, perbuatan tersebut dipicu persoalan
ekonomi.
"Bayi
itu dilempar ke tungku untuk memasak nasi.Korban ada luka di bagian muka,kaki
mungkin benturan akibat lemparan di pelaku," ujar AKP D Majmudin.
Menurut
warga sekitar,pelaku baru empat bulan tinggal di kawasan itu dan tidak memiliki
pekerjaan tetap.
Kritik :
Kurangnya perhatian Pemerintah terhadap warga
yang kurang mampu.
Saran :
Sebaiknya
Pemerintah lebih memerhatikan perekonomian warganya agar dapat mencegah tindak
kekerasan karena persoalan ekonomi.
6. ABG
Cantik Menghilang,Diduga Korban Trafficking
Judul : PMKS (Korban Trafficking)
“ABG Cantik Menghilang,Diduga Korban
Trafficking”
Waktu : 7 Mei 2017 19.03 WIB
5 Mei 2017 23.38 WIB,Lokasi Kejadian di Tombulu Minahasa Manado
Sumber : Internet Beritakawanua.com
Isi
Berita :
Seorang anak baru
gede (ABG), ingga (14) nama samaran,dilaporkan menghilang dari rumahnya di
salah satu desa di Kecamatan Tombulu Minahasa. Korban diduga menjadi korban
trafficking atau perdagangan manusia.
Kasus ini kini
ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Manado, setelah
dilaporkan kedua orang tuanya,Jumat (5/5/2017) sore. Dalam laporan disebutkan,korban
telah menghilang sejak Rabu (3/5/2017) siang.
Berdasarkan laporan
di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), awalnya anak perempuannya yang
masih duduk di bangku SMP ini berpamitan kepada orang tuanya untuk mengerjakan
tugas kelompok bersama teman-temannya.Namun kecurigaan muncul karena hingga
malam korban tidak juga pulang ke rumah.
Ayah korban lalu
berusaha mencari anaknya dengan bertanya kepada teman-teman korban.Namun hingga
larut malam,tidak ada yang mengetahui keberadaan gadis berkulit putih dan
berparas cantik ini.
Sampai akhirnya,ada
warga memberitahukan kalau korban sempat terlihat bersama perempuan berinisial
JL alias Ika (20-an), warga yang sama. Warga itu menyebut keduanya sedang
berada di salah satu pangkalan ojek di desa itu.
Dari informasi itu,
ayah korban kembali mendapatkan kabar dari salah satu tukang ojek yang mengaku
mengantar keduanya ke Pelabuhan Manado.
Belakangan,ayah
korban mendapatkan telpon dari anaknya yang berbicara sambil menangis dan
ketakutan,Jumat pagi tadi.Korban menceritakan kalau dirinya sekarang sedang
berada di kompleks Pelabuhan Lirung Kabupaten Talaud.
Kasubag Humas
Polresta Manado,AKP Roly Sahelangi membenarkan adanya laporan tersebut.Tapi
dalam laporan itu baru dugaan membawa lari anak gadis.
"Sudah
diserahkan ke Unit PPA untuk dikembangkan adanya kemungkinan kasus ini
berhubungan dengan trafficking," tandas mantan Kapolsek Pineleng ini.
Kritik :
Kurangnya tindakan
oleh Pihak Unit Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPA) dan Polresta Manado.
Saran :
Sebaiknya Pihak Unit
Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPA) dan Polresta Manado langsung mengecek
lokasi yang diberitahukan oleh korban agar korban cepat ditemukan.
Sumber :