Makalah Sejarah Peradaban Islam
(Dinasti Fatimiyyah
Dan Ayyubiyah)
Oleh Kelompok V:
Ø Yunica Damayanti (50300115091)
Ø Reza Putri Anugrah (50300115086)
Ø Siska Widiastuti(50300115096)
Ø Nur Sa’adah(50300115088)
PMI/KESEJAHTERAAN SOSIAL C
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2016/2017
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2016/2017
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Wr.Wb
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah Sejarah Peradaban Islam yang
berjudul “Dinasti
Fatimiyyah Dan Dinasti Ayyudiyah”.Makalah Sejarah Peradaban ini kami ditujukan untuk
melengkapi dan menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kami.Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari
sempurna,oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihakyang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Makalah ini.
Semoga apa yang kami tulis ini dapat bermanfaat dan menjadi refresensi
materi dari matakuliah Sejarah Peradaban Islam
yang telah diajarkan kepada kami.Terima kasih,Wassalam.
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.................................................................................................................... i
DAFTAR
ISI...................................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang............................................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................................................. 1
C.
Tujuan Penulisan............................................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Proses
Pembentukan Khalifah Fatimiyyah............................................................................................................ 3
B.
Fase Pembentukan
Dinasti Fatimiyyah............................................................................................................ 5
C.
Pola Pemerintahan Dinasti Fatimiyyah............................................................................................................ 5
D.
Politik Dinasti Fatimiyyah............................................................................................................ 5
E.
Masa Kemajuan Dan Kontribusi Dinasti
Fatimiyyah Terhadap Peradaban Islam...................................................................................................................... 6
F.
Masa Kemunduran Dan Kehancuran Khalifah
Fatimiyyah............................................................................................................ 9
G.
Khalifah Dinasti Ayyubiyah........................................................................................................... 11
H.
Sejarah Munculnya Dinasti Ayyubiyah........................................................................................................... 12
I.
Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam
Pada Masa Dinasti Ayyubiyah........................................................................................................... 12
J.
Akhir Masa Dinasti Ayyubiyah........................................................................................................... 14
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan......................................................................................................... 15
B.
Saran................................................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib adalah
isu terpenting bagi komunitas Islam Syi’ah untuk mengembangkan konsep Islamnya
melebihi isu hukum dan mistisme. Pada abad ke-VII dan ke-VIII Masehi isu
tersebut mengarah kepada gerakan politik.
Khilafah-khilafah yang memisahkan diri itu
salah satu diantaranya adalah Fatimiyah yang berasal dari golongan Syi’ah sekte
Ismailiyah yakni sebuah aliran sekte di Syi’ah yang lahir akibat perselisihan
tentang pengganti imam Ja’far al-Shadiq yang hidup antara tahun 700 – 756 M.Fatimiyah
hadir sebagai tandingan bagi penguasa Abbasiyah yang berpusat di Baghdad yang
tidak mengakui kekhalifaan Fatimiyah sebagai keturunan Rasulullah dari Fatimah.Karena
mereka menganggap bahwa merekalah ahlulbait sesungguhnya dari Bani Abbas.
Dalam perkembangannya Khilafah Fatimiyah
mampu membangun sistem perpolitikan yang begitu maju dan ilmu pengetahuan yang
juga berkembang pesat,namun sebagaimana dinasti kekhilafaan sebelumnya,Khilafah
Fatimiyah juga mengalami zaman kemunduran dan kehancuran,Sehingga pada waktu
itu, dinasti ayyubiah berhasil mengambil posisi fathimiyah sehingga dinasti
fathimiyah tidak ada lagi.
Dinasti Ayyubiyah di
Mesir berkuasa tahun 1169 sampai akhir abad ke-15 M. menggantikan dinasti
Fatimiyah.Pendiri dinasti ini adalah Salahuddin. Ia menghapuskan sisa-sia
Fatimiyah di Mesir yang bercorak Syi’a dan mengembalikannya ke faham sunni-ahlu sunnah wal
jama’ah.Reputasi Salahudin bersinar setelah sukses melawan tentara Salib dengan
mempersatukan pasukan Turki, Kurdi dan Arab. Kota Yerussalam pada tahun 1187
kembali ke pangkuan Islam dari tangan tentara Salib yang telah menguasainya
selama 80 tahun.
Gangguan politik terus-menerus dari wilayah sekitarnya menjadikan wibawa
Fathimiyah merosot. Pada 564 Hijriah atau 1167 Masehi,Salahuddin Al-Ayyubi
mengambil alih kekuasaan Fathimiyah.Tokoh Kurdi yang juga pahlawan Perang Salib tersebut
membangun Dinasti Ayyubiyah,yang berdiri disamping Abbasiyah di Baghdad yang
semakin lemah.
B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan Poses
Pembentukan Khlifah Fatimiyyah!
2.
Menjelaskan Fase Pembentukan Dinasti Fathimiyah!
3. Menjelaskan Pola
Pemerintahan Dinasti Fatimiyyah!
4. Menjelaskan Politik Dinasti
Fathimiyyah !
5.
Menjelaskan Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap
Peradaban Islam!
6.
Menjelaskan Masa Kemunduran dan Kehancuran Khilafah
Fatimiyah!
7.
Menjelaskan Khilafah Dinasti Ayyubiah!
8.
Menjelaskan Sejarah Munculnya Dinasti Ayyubiyah!
9.
Menjelaskan Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam
pada Masa Dinasti Al-Ayyubiyah!
10.
Menjelaskan Akhir Masa Dinasti Ayyubiyyah!
C.
Tujuan Masalah
1. Untuk Mengetahui Poses
Pembentukan Khlifah Fatimiyyah
2.
Untuk Mengetahui Fase Pembentukan Dinasti Fathimiyah
3. Untuk Mengetahui Pola
Pemerintahan Dinasti Fatimiyyah
4. Untuk Mengetahui Politik
Dinasti Fathimiyyah
5.
Untuk Mengetahui Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap
Peradaban Islam
6.
Untuk Mengetahui Masa Kemunduran dan Kehancuran Khilafah
Fatimiyah
7.
Untuk Mengetahui Khilafah Dinasti Ayyubiah
8.
Untuk Mengetahui Sejarah Munculnya Dinasti Ayyubiyah
9.
Untuk Mengetahui Perkembangan Kebudayaan/Peradaban
Islam pada Masa Dinasti Al-Ayyubiyah
10.
Untuk Mengetahui Akhir Masa Dinasti Ayyubiyyah
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam makalah ini terdapat dua dinasti yang dapat ditinjau yaitu
dinasti fathimiyah dan dinasti ayyubiah.Di kedua dinasti ini memiliki sejarah
yang berbeda mengikut perkembangannya.Ketika ditinjau dari dinasti fathimiyah,
terdapat sejarah yang mula sehinggalah berkembangnya dinasti tersebut begitu
juga dengan dinasti ayyubiah.
A. Poses Pembentukan Khlifah
Fatimiyyah
Dinasti atau Khalifah Fathimiyyah ini mengaku sebagai
keturunan Saydina Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulillah Muhammad
SAW.Atas dasar inilah mereka menisbatkan diri dengan nama Fathimiyyah.
Khalifah pertama mereka adalah ‘Ubaydillah al-Mahdi di
samping itu Khalifah Fathimiyyah ini mempunyai pemimpin lain yaitu Ali Ibn
Fadhi al-Yamani, Abi Qasyim Khatam Ibn Husain Ibn Hausah al-Kufi, aI-Halawani
dan Abu Sufyan. ‘Ubaydillah al-Mahdi; yang telah memulai aktivitas di tahun 909
M. dia datang dari Syuruah ke Afrika Utara, menyamar sebagai pedagang, lalu
tertangkap oleh Amir Dinasti Aghlabi ziadallah III dibantu oleh gebernurnya
al-Yasa, 'Ubaidillah dipenjarakan di Sijilmasah.[1]Kelompok
yang dipimpin Abdullah Asy-syi'i ingin membebaskan 'Ubaydillah dari penjara
Sijilmasah, melihat kelompok Asy-syi’i ini al-Yasa merasa takut lalu melarikan
diri meninggalkan kediamannya. Dengan demikian Asy-syi'i dapat melepaskan
'Ubaydillah dan anaknya pada waktu itu pula Asy-Syi'i mengangkat ‘Ubaydillah
menjadi Khalifah tepatnya di tahun 297/ 909 M.[2] Daulah
Fathimiyyah ini berdiri di Afrika dengan ibu kotanya Raqadah di pinggiran kota
Kairawan.
Dengan kejadian seperti ini dapatlah dikatakan bahwa
'Ubaydillah dan pendukungnya telah dapat merebut kekuasaan Bani Ahglab secara
Defacto. Daerah pusat pemerintahan Ahglab ini dijadikan tempat pemusatan dakwah
Syi'ah. 'Ubaydillah memulai aksi politiknya dengan menghilangkan nama Khalifah
Bani Abbasiah yang selalu disebut dalam khutbah. Di kota Kairawan 'ubaydillah
disambut oleh masyarakat, mereka membai'at dan menyatakan keta'atan terhadap
'Ubaydillah, namanya disebut di dalam khutbah dengan gelar "al-Mahdi Amir
al- Mukminin", maka saat itu Daulah Fathimiyyah telah diakui dan resmi
berdiri.
Obsesi yang tersirat dalam pendirian Bani Fathimiyyah
yang terpenting adalah mencoba menguasai pusat dunia Islam; yaitu Mesir. Hal
yang mendorong mereka untuk menguasai Mesir tersebut adalah faktor
"Ekomomi" dan "Politik". Ditinjau dari faktor ekonomi Mesir
yang terletak di daerah Bulan Sabit yang alamnya sangat subur dan menjajadi
daerah lintas perdagangan yang strategis; perdagangan ke Hindia melalui laut
Merah, ke Italia dan Laut Tengah Barat, ke kerajaan Bizantium.[3]
Dari segi faktor politik, Mesir terletak di wilayah
yang strategis menurut peta politik, daerah ini dekat dengan Syam, Falestina
dan Hijaz yang juga merupakan wilayah Mesir sejak Dinasti Tulun. Bila
Fathimiyyah dapat menaklukkan Mesir berarti akan mudah baginya untuk menguasai
Madinah sebagai pusat Islam masa lampau, serta kota Damaskus dan Bahgdad dua
ibu kota ternama di zaman Bani Umayyah dan Bani Abbasiah. Dengan demikian maka
nantinya Dinasti Fathimiyah ini akan cepat termasyhur dan di kenal Dunia.
Untuk mencapai hal yang telah dicanangkannya ini
'Ubaydillah al-Mahdi memerintahkan anaknya Qal-Qasim, melakukan ekspedisi ke
Mesir, perjalanan ini dilakukan berturut -turut pada tahun 913, 919 dan 925 H,
akan tetapi ekspedisi ini tidak berhasil. AI- Muiz, Khalifah keempat dari
Dinasti Fathimiyyah melanjutkan rencana penaklukan yang dicita-citakan oleh
Khalifah pertama Bani Fathimiyyah ('Ubaydillah al- Mahdi), dia memulai
seterategi baru yakni merangkul kelompok Beber yang ingin melekukan
pemberontakan terhadap Fathimiyyah, semua kelompok itu dapat ditundukkannya.
Setelah itu orang Fathimiyyah mengadakan persiapan yang cermat, disamping itu
mereka mengadakan propaganda politik di saat Mesir dilanda bencana kelaparan
yang hebat. Jauhar menerobos Kairo lama (al-Fustat) tanpa mengalami kesulitan
dia dapat menguasai negeri itu. Seorang pangeran Ikhsidiyah yang bernama Ahmad
masih berkuasa pada waktu itu, tetapi rezim Ikhsidiah sudah tidak berfungsi
lagi dan tidak memberikan perlawanan kepada tentera Jauhar.[4]Jauhar
memasuki Mesir bersama 100.000 tentera.[5] Jauhar
mulai membangun kota baru yang diberinya nama al-Qahirah berarti kemenangan di
kota ini dia menempatkan bala tenteranya. Serangan ke Mesir ini dilakukan pada
tahun 358 H atau 969 M.
Setelah al-Qahirah (Kairo) dibangun; pada tahun 973 M
pusat pemerintahan Dinasti Fathimiyyah dipindahkan ke Kairo dan bertahan sampai
tahun 1171 M.[6] Kota Kairo juga
sebagai tempat kediaman para Khalifah Fathimiyyah. Maka pembentukan kekuasaan
(Khilafah) Fathimiyyah ini, tercatat di masa pemerintahan al-Muizz. Persiapan
awal yang dijalankan pertama sekali olehnya adalah:
1.merangkul kelompok yang ingin memberontak
2.mempersiapkan tentera untuk melakukan penyerangan
3.membangun jalan raya menuju ke Mesir
4.menggali sumur-sumur di pinggiran jalan raya menuju
ke Mesir
5.membangun rumah tempat peristirahatan (tentera)
mempersiapkan
dana (keuangan guna perbekalan bagi pasukan Fathimiyah.[7] Sebagai Panglima yang dipercayakan
memimpin tentera pada penaklukan Mesir itu, Jauhar menjalankan aksi politik
Fathimiyah bagi penduduk Mesir yaitu dengan :
1. memberikan keyakinan kepada penduduk tentang
kebebasan mereka menjalankan ibadah menurut agama dan mazhab mereka
masing-masing
2.berjanji akan melaksanakan pembangunan di negeri itu
dan akan menegakkan keadila
3.mempertahankan Mesir dari serangan musuh.[8]
4.menghapuskan nama-nama khalifah bani Abbasiah yang
disebut-sebut dalam do’a ketika shalat jumat dan digantikan dengan nama
Khalifah Fathimiyah.
5.menata
pemerintahan Penataan pemerintahan yang dilakukan Jauhar adalah menetapkan
kedudukan Ja'afar ibn al-Fadl ibn al-Furat di Mesir, sebagai wazir di Mesir.
Pegawai
dari golongan Sunni tetap pada posisi semula ditambah dengan seorang pegawai
dari Syi'ah Mahgribi disetiap bagian. Masyarakat Mesir terdiri dari tiga
golongan yakni Golongan Sunni, golongan Kristen Koptic dan golongan Syi'ah.
Semuanya dibebaskan menjalankan ajaran agamanya masing- masing. Dari setiap
mazhab yang ada diangkat seorang kadhi. Dengan demikian masyarakat Mesir yang
beraliran Sunni itu tidak merasa khawatir dan tidak menentang pemerintahan yang
beraliran Syi’ah IsmaiIiyah ini, rakyat menaruh simpati kepada pemerintahan
Fathimiyyah, propaganda Syi'ah yang dijalankan oleh Jauhar ini berhasil.
B.
Fase Pembentukan
Dinasti Fathimiyah
Negara Fatimiyah di Fathimiyah
berdiri pada tahun 297 H/910 M, dan berakhir pada 567 H/1171 M yang pada
awalnya hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan yang berkedsudukan di Afrika Utara, dan
kemudian berpindah ke Mesir Dinasti ini dinisbatkan kepada Fatimah Zahra putri
Nabi Muhammad SAW dan sekaligus istri Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu. Dan
juga dinasti ini mengklaim dirinya sebagai keturunan garis lurus dari pasangan
Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Zahra binti Rasulullah SAW.[2] Namun masalah nasab
keturunan Fathimiyah ini masih dan terus menjadi perdebatan antara para
sejarawan.
Dari dulu hingga sekarang belum
ada kata kesepakatan diantara para sejarawan mengenai nasab keturunan ini, hal
ini disebabkan beberapa faktor diantaranya :
Pertama, pergolakan politik dan madzhab yang sangat kuat sejak wafatnya
Rasulullah SAW.
Kedua, ketidakberanian dan keengganan keturunan Fatimiyah ini untuk
mengiklankan nasab mereka, karena takut kepada penguasa, ditambah lagi
penyembunyian nama-nama para pemimpin mereka sejak Muhammad bin Ismail hingga
Ubaidillah al Mahdi .
Dinasti Fatimiyah beraliran syiah
Ismailiyah dan didirikan oleh Sa’id bin Husain al Salamiyah yang bergelar
Ubaidillah al Mahdi. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara
karena propaganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari
suku Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan
gurbernur Aglabiyah di Afrika,, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez
dijadikan sebagai bawahan.
Pada awalnya, Syiah Ismailiyah
tidak menampakkan gerakannya secara jelas, baru pada masa Abdullah bin Maimun
yang mentransformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan
tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris
ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah.
Kegiatan inilah yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti
Fatimiyah.
C. Pola Pemerintahan Dinasti
Fatimiyyah
Pola
pemerintahan yang dijalankan Fathimiyyah mengikuti pola pemerintahan bani
Abbasiah di Bahgdad. Kepemimpinan dikonsentrasikan kepada Khalifah dan dibai'ah
lewat seremoni yang megah.
Setelah
memerintah selama 22 tahun, al-Mu'iz telah dapat memimpin Negara dengan baik,
dapat dikatakan khilafah Fathimiyyah berdiri kokoh, sesudah beliau wafat
kepemimpinan Dinasti Fathimiyyah berturut -turut dipimpin Khalifah, al-'Aziz
(anak al- Mu'iz), al-Hakim (996M), al-azh-Zahir (1021 M), al-Mustansir (103 M),
al-Musta'ali (1094 M , al-Amir (1101 M), al-Hafiz (1131M ), azh-Zhafir (1154
M), al- Fa'iz (1154 M), al-'Adhid (1171 M). Lamanya Dinasti Fathimiyyah berdiri
208 tahun.
D. Politik Dinasti Fathimiyyah
Pemahaman syiah pada masa Daulah Fatimiah sangatlah
kental terlihat dalam kebijakan politik kenegaraannya, mereka menguatkan pendapat
yang sesai dengan mazhab syiah dan mendahulukan pengamalan agama dengan
mengikut pendapat para imamnya dari pendapat para imam sunni, walaupun
kebanyakan penduduk Mesir Saat itu bermazhab sunnah.
Ya'qub bin Kalas seorang wazir pada pemerintahan Fatimiah
menyusun sebuah kitab fiqh yang disusun berdasarkan mazhab Syiah Isma'iliyah
dengan arahan langsung khalifah Al Mu'iz Lidinillah yang berkuasa saat itu.
Kitab ini dijadikan sebagai pedoman dalam memustuskan perkara di pengadilan dan
fatwa lainnya. Sehingga siapa saja yang menjadi qadhi mesti berpodoman pada
kitab ini.
Al Mu'iz Lidinillah memerintahkan bawahannya agar di
buat rumah khusus disamping universitas Al Azhar untuk pelatihan dalam rangka
memahami kitab tersebut. Wazirnya di perintahkan untuk mendatangkan para
fuqaha' yang saat itu berjumlah 35 orang kemudian di beri fasilitas dan gaji
yang mencukupi, bukan hanya itu para fuqaha' juga di sediakan tunjangan hari
raya dan fasilitas di istana untuk tujuan mengajarkan kitab tersebut kepada
masyarakat. Semua itu sebagai motivasi kepada para du'ah yang memberikan
pemahaman pada masyarakat mengenai kitab tersebut dan seluruh biaya tersebut di
tanggung oleh khalifah. Sebab khalifah tau bahwa pemerintahannya akan bertahan
lama jika ilmu tersebut disebarkan pada masyarakat.
E.
Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap Peradaban Islam
Sumbangan Dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam
sangat besar sekali, baik dalam sistim pemerintahan maupun dalam bidang
keilmuan. Kemajuan yang terlihat pada masa kekhalifahan al-Aziz yang bijaksana
diantaranya sebagai berkut:
a.
Bidang Politik dan Pemerintahan
Pada
masa pemerintahan Fatimiyah, kepada Negara dipimpin oleh seorang imam atau
khalifah, para imam bagi fatimi memang sesuatu yang diwajibkan, ini merupakan
penerapan kekuasaan yang turun temurun, mulai dari Nabi Muhammad, Ali bin Abi
Thalib, kemudian selanjutnya di teruskan oleh para imam. Imamah ini diwariskan
dari seorang bapak kepada anak laki-laki yang paling tua dari keturunan mereka.
Dan menjadi syarat penting yang harus dipenuhi dalam pengangkatan seorang imam
adalah adanya nash atau wasiat khusus dari imam sebelumnya.[8] Baik wasiat yang di kemukakan di
hadapan umat islam secara umum, atau hanya diketahui oleh orang-orang tertentu
sebagian dari mereka saja.
Para
imam didinasti fatimiyah, mereka anggap sebagai penjelmaan Allah di bumi,
meraka menjadikan Imam-imam sebagai tempat rujukan utama dalam syariat, dan
orang paling dalam ilmunya.
Selanjutnya dari segi politik juga daulat fatimiyah
membentuk wazir-wazir (wazir tanfiz dan wazir tafwid). Wazir ini dibentuk pada
masa Aziz billah pada bulan Ramadhan tahun 367H/979 M.[9]
Disamping itu daulat fatimiyah juga membentuk
dewan-dewan dalam pemerintahannya diantaranya, dewan majlis , dewan
nazar, dewan tahkik (sekretaris)dewan barid (pos),
dewan tartib (keamanan), dewan kharraj (pajak) dan
lain-lainnya.[10]
Bentuk pemerintahan pada masa Fatimiyah merupakan
suatu bentuk pemerintahan yang dianggap sebagai pola baru dalam sejarah Mesir.
Dalam pelaksanaannya Khalifah adalah kepala yang bersifat temporal dan
spiritual. Pengakatan dan pemecatan penjabat tinggi berada di bawah kontrol
kekuasaan Khalifah.
Mentri-mentri Wazir kekhalifahan dibagi dalam dua
kelompok, yaitu kelompok Militer dan Sipil. Yang dibidangi oleh kelompok
Militer diantaranya: urusan tentara, perang, pengawal rumah tangga khalifah dan
semua permasalahan yang menyangkut keamanan. Yang termasuk kelompok Sipil
diantaranya:
a. Qadi, yang berfungsi sebagai hakim dan direktur
percetakan uang
b. Ketua dakwah, yang memimpin Darul Hikmah
c. Inspektur pasar, yang membidangi bazar, jalan dan
pengawasan timbangan
d. Bendaharawan Negara, yang membidangi Baitul Mal
e. Wakil kepala urusan rumah tangga Khalifah
f. Qori, yang membaca al-Qur’an bagi Khalifah kapan saja
dibutuhkan.
Selain dari penjabat di istana
ini ada beberapa pejabat lokal yang diangkat oleh Khalifah untuk mengelola
bagian wilayah Mesir, Siria, dan Asia kecil. Ketentaraan dibagi ke dalam tiga
kelompok:
1.Amir-amir yang
berdiri dari pejabat-pejabat tinggi dan pengawal Khalifah
2.Para Obsir Jaga
3.Resimen yang
bertugas sebagai Hafizah Juyudsiah dan Sudaniyah.
b.
Pemikiran dan Filsafat
Dalam menyebarkan tentang kesyi’ahannya Dinasti
Fatimiyah banyak menggunakan filsafat Yunani yang mereka kembangkan dari
pendapat-pendapat Plato, Aristoteles dan ahli-ahli filsafat lainnya.[11] Kelompok ahli filsafat yang paling
terkenal pada Dinasti Fatimiyah adalah ikhwanu shofa. Dalam
filsafatnya kelompok ini lebih cendrung membela kelompok Syi’ah Islamiyah, dan
kelompok inilah yang menyempurnakan pemikiran-pemikiran yang telah dikembangkan
oleh golongan Mu’tazilah.Beberapa tokoh filsuf yang muncul pada masa Dinasti
Fatimiyah ini adalah:
1.Abu Hatim Ar-Rozi,
dia adalah seorang da’i Ismaliyat yang pemikirannya lebih banyak dalam masalah
politik, Abu Hatim menulis beberapa buku diantaranya kitab Azzayinahyang
terdiri dari 1200 halaman. Di dalamnya banyak membahas masalah Fiqh, filsafat
dan aliran-aliran dalam agama.
2.Abu Abdillah
An-Nasafi, dia adalah seorang penulis kitab Almashul. Kitab ini lebih banyak
membahas masalah al-Ushul al-Mazhab al-Ismaily. Selanjutnya ia
menulis kitabUnwanuddin Ushulus syar’i, Adda’watu Manjiyyah. Kemudian
ia menulis buku tentang falak dan sifat alam dengan judul Kaunul
Alam dan al-Kaunul Mujrof .
3.Abu Ya’qup as
Sajazi, ia merupakan salah seorang penulis yang paling banyak tulisannya
4.Abu Hanifah
An-Nu’man Al-Magribi
5.Ja’far Ibnu Mansyur
Al-YamanHamiduddin Al-Qirmani.[12]
c.
Pendidikan dan Iptek
Seorang ilmuan yang paling
terkenal pada masa Fatimiyah adalah Yakub Ibnu Killis. Ia berhasil membangun
akademi-akademi keilmuan yang mengahabiskan ribuan Dinar perbulannya. Pada
masanya, ia berhasil membesarkan seorang ahli fisika yang bernama Muhammad Attamimi.
Disamping Attamimi ada juga seorang ahli sejarah yang bernama Muhammad Ibnu
Yusuf Al Kindi dan Ibnu Salamah Al Quda’i. seorang ahli sastra yang muncul pada
masa Fatimiyah adalah Al Aziz yang berhasil membangun masjid Al Azhar.[13]
Kemajuan keilmuan yang peling
fundamental pada masa Fatamiyah adalah keberhasilannya membangun sebuah lembaga
keilmuan yang disebut Darul Hikam atau Darul Ilmi yang dibangun oleh Al Hakim
pada tahun 1005 Masehi.
Ilmu astronomi banyak
dikembangkan oleh seorang astronomis yaitu Ali Ibnu Yunus kemudian Ali Al Hasan
dan Ibnu Haitam. Dalam masa ini kurang lebih seratus karyanya tentang
matematika, astronomi, filsafat dan kedokteran telah dihasilkan.
Pada masa pemerintahan Al Hakim
didirikan Bait Al Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan
oleh Al Makmun di Bahgdad. Pada masa Al Muntasir terdapat perpustakaan yang di
dalamnya berisi 200.000 buku dan 2.400 Illuminated Al-Qur’an ini
merupakan bukti kontribusi Dinasti Fatimiyah bagi perkembangan budaya Islam.
d. Ekonomi dan Perdagangan
Mesir mengalami kemakmuran
ekonomi dan fitalitas kultural yang mengungguli Irak dan daerah-daerah lainnya.
Hubungan dagang dengan dunia non Islam dibina dengan baik termasuk dengan India
dan negeri-negeri mediterania yang beragama Kristen.
Pada suatu festival, Khalifah
kelihatan sangat cerah dan berpakaian indah. Istana Khalifah yang dihuni oleh
30.000 orang terdiri dari 1.200 pelayan dan pengawal juga terdapat
masjid-masjid, perguruan tinggi, rumah sakit dan pemondokan Khalifah yang
berukuran sangat besar menghiasi kota Kairo baru. Pemandian umum yang dibangun
dengan baik terlibat sangat banyak disetiap tempat di kota itu. Pasar yang
mempunyai 20.000 toko luar biasa besarnya dan dipenuhi berbagai produk dari
seluruh dunia. Keadaan ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang begitu berlimpah
dan kemajuan ekonomi yang begitu hebat pada masa Fatimiyah di Mesir.
Disegi pertanian Dinasti
Fatimiyah juga mengalami peningkatan, keberhasilan pertanian di mesir pada masa
ini bisa di kelompokkan kepada dua sektor
1.Daerah pinggiran-pinggiran
sungai Nil
2.Tempat-tempat yang telah
ditentukan pemerintah untuk dijadikan lahan pertanian.
Sungai Nil merupakan sebagian
pendukung bagi kelansungan hidup orang-orang Mesir, kadang-kadang sungai nil
ini menuai penyusutan air sehingga masyarakat merasa kesulitan untuk mengambil
air untuk diminum, untuk binatang ternak, maupun untuk pengairan tanam-tanaman
mereka, namun sebaliknya adakalanya sungai nil ini pasang naik, sehingga
dataran-dataran Mesir kebanjiran, menyebabkan kerusakan lahan dan tanaman.
Untuk mengatasi hal tersebut mereka membikin gundukan-gundukan dari tanah dan
batu sebatas tinggi air takkala banjir.[14]
Mereka membagi waktu untuk bercocok tanam dalam dua
musim :
1.Musim dingin, (bulan Desember
sampai bulan maret) dengan aliran-aliran dari selokan sungai nil, pada musim
ini mereka biasa menanam gandum, kapas, pohon rami.
2.Musim panas, (bulan april
sampai bulan juli) karena air sungai nil mulai surut, maka mereka mengairi
sawah ladang dengan mengangkat air dengan alat. Pada musim ini mereka menanam
padi, tebu, semangka, anggur, jeruk, dan lain-lain.[15]
Dibidang perdagangan mereka
melakukan perdagangan dengan mengunjungi beberapa daerah seperti Asia, Eropa,
dan daerah-daerah sekitar laut tengah.
Pada masa dinasti Fatimiyah
mereka menjadikan kota Fustat sebagai kota perdagangan, dari sini semua barang
akan dikirim baik dari dalam maupun dari luar Mesir.
e. Sosial Kemasyarakatan
Pada waktu orang-orang Fatimiyah
memasuki Mesir, penduduk setempat ada yang beragama Kristen Qibty, dan ahlu
sunnah. Mereka hidup dalam kedamaian, saling menghormati antara satu dengan
yang lain. Boleh dikatakan tidak terjadi pertengkaran antara suku, maupun
agama. Masyarakatnya mempunyai sosialitas yang tinggi sesama mereka.
f. Pemahaman Agama
Sesuai dengan asal usul dinasti
Fatimiyah ini adalah sebuah gerakan yang berasal dari sekte syi’ah Ismailiyah,
maka secara tidak lansung dinasti ini sebenarnya ingin mengembangkan
doktrin-doktrin syi’ah di tengah-tengah masyarakat, namun dengan berbagai
pertimbangan mereka tidak terlalu memaksa pemahaman ini harus di ikuti oleh
para penduduk, mereka bebas beragama sesuai dengan apa yang mereka
yakini. Hal ini dilakukan supaya mereka selalu mendapat dukungan dari rakyat
demi berdirinya dinasti Fatimiyah di negeri para Nabi ini.
F.
Masa Kemunduran dan Kehancuran Khilafah Fatimiyah
Kemunduran
Dinasti Fatimiyah berawal pada pemerintahan Khalifah al-Hakim. Ketika diangkat
menjadi khalifah ia baru berumur 11 tahun. Al-Hakim memerintah dengan tangan
besi, masanya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman.Ia membunuh
beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja Kristen, termasuk sebuah
gereja yang didalamnya terdapat kuburan suci umat Kristen. Maklumat
penghancuran kuburan suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama
Kristen, Ibn Abdun. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya
perang salib. Ia memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, dan
mereka hanya diperbolehkan menunggangi keledai. Orang-orang Yahudi dan Nasrani
dibunuh dan aturan-aturan tidak ditegakkan dengan konsisten. Ia juga dengan
mudah membunuh orang yang tidak disukainya, bahkan pernah membakar sebuah desa
tanpa alasan yang jelas. Kemudian pada tahun 381 H/991 M ia menyerang Aleppo
dan berhasil merebut Homz dan Syaizar dari tangan penguasa Arab. Peristiwa ini
menimbulkan sikap oposan dari penduduk dan menyeret Dinasti Fatimiyah dalam
konflik dengan Bizantium. Walaupun pada akhirnya al-Hakim berhasil mengadakan
perjanjian damai dengan Bizantium selama sepuluh tahun.
Al-Hakim
kemudian memilih mengikuti perkembangan ekstrem ajaran Ismailiyah, dan
menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Tuhan. Ia meninggalkan istana dan
berkelana hingga akhirnya terbunuh di Muqatam pada 13 Pebruari 1021.
Kemungkinan ia dibunuh oleh persekongkolan yang dipimpin adik perempuannya,
Siti al-Muluk, yang telah diperhentikan tidak hormat olehnya.
Al-Hakim
kemudian digantikan oleh az-Zahir, anaknya sendiri. Ketika diangkat menjadi
khalifah ia baru berusia 16 tahun. Pada mulanya Dinasti Fatimiyah didirikan
oleh bangsa Arab dan orang Barbar, tapi ketika masa Az-Zahir situasi berubah,
khalifah lebih mendekati keturunan Turki dan suku Barbar di dalam pemerintahan
Fatimiyah. Az-Zahir mendapat izin dari Konsantin ke VII agar namanya disebutkan
dimesjid-mesjid yang berada di bawah kekuasaan sang kaisar. Ia juga mendapat
izin untuk memperbaiki mesjid yang berada di konstantinopel. Ini semua sebagai
balasan terhadap restu sang khalifah untuk membangun kembali gereja yang di
dalamnya terdapat kuburan suci, dimana dulu gereja ini dihancurkan
oleh Al-Hakim.
Setelah
sepeninggal Az-Zahir kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang baru berusia
11 tahun, yaitu al-Mustanshir. Mulai masa ini system pemerintahan Dinasti
Fatimiyah berobah menjadi parlementer, artinya khalifah hanya berfungsi sebagai
symbol saja, sementara pemegang kekuasaan pemerintahan adalah para mentri. Oleh
karena itulah masa ini disebut “ahdu nufuzil wazara” (masa pengaruh
mentri-mentri). Al-Mustanshir sebagaimana juga az-Zahir lebih mendekati
keturunan Turki, hingga muncul dua kekuatan besar yaitu Turki dan Barbar.
Perang saudarapun tidak dapat dielakan. Setelah meminta bantuan Badrul Jamal
dari Suriah, khalifah dan orang Turki dapat mengalahkan Barbar, dan berakhirlah
kekuasaan orang Barbar di dalam Dinasti Fatimiyah.
Pada
masa al-Mustanshir ini kekuasaan Dinasti Fatimiyah di wilayah Suriah mulai
terkoyak dengan cepat. Sementara kekuatan besar yang datang dari timur, yaitu
bani Saljuk dari Turki, juga membayang-bayangi. Pada waktu yang bersamaan
propinsi-propinsi Fatimiyah di Afrika memutuskan hubungan dengan pusat
kekuasaan, bermaksud memerdekakan diri dan kembali kepada sekutu lama mereka,
Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1052, suku arab yang terdiri dari bani Hilal dan
bani Sulaim yang mendiami dataran tinggi Mesir memberontak. Mereka bergerak
kebagian barat dan berhasil menduduki Tropoli dan Tunisia selama beberapa
tahun.
Sementara
itu pada tahun 1071, sebagian besar wilayah Sisilia, yang mengakui kedaulatan
Fatimiyah dikuasai oleh bangsa Normandia yang daerah kekuasaannya terus meluas
hingga meliputi sebagian pedalaman Afrika. Hanya kewasan semenanjung arab yang
mengakui kekuasaan Fatimiyah.
Az-Zahir
kemudian digantikan oleh al-Mustansir. Di masa ini terjadi kekacauan
dimana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi antara orang-orang Turki, suku
Barbar dan pasukan Sudan. Kekuasaan negara lumpuh dan kelaparan yang terjadi
selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian Negara. Di tengah kekacauan
itu, pada tahun 1073 khalifah memanggil Badr al-Jamali, orang Armenia bekas
budak dari kegurbernuran Akka dan memberinya wewenang untuk bertindak sebagai
wazir dan panglima tertinggi. Amir al Juyusi (komando perang) yang baru ini
mengambil komando dengan seluruh kekuatan yang ia punya untuk memadamkan
berbagai kekacauan dan memberikan nyawa baru pada pemerintahan Fatimiyah. Tapi
usaha ini, yang juga diteruskan oleh anak dan penerus al-Mustansir yaitu
Al-Afdhal, tidak dapat menahan kemunduran Dinasti ini.
Tahun-tahun
terakhir dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah ditandai dengan munculnya perseteruan
yang terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya
masing-masing. Setelah al-Mustansir wafat, terjadi perpecahan serius dalam
tubuh Ismailiyah. Perpecahan itu terjadi antara dua kelompok yang berada
dibelakang kedua anak al-Mustansir yaitu Nizar dan al-Musta’li. Pendukung Nizar
lebih aktif, ekstrim dan menjadi gerakan pembunuh. Sedangkan pendukung
al-Musta’li lebih moderat. Akhirnya yang terpilih menjadi khalifah adalah
al-Musta’li dengan ia didukung oleh al-Afdhal. Al-Afdhal mendukung al-Musta’li
dengan harapan ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Akan tetapi basis
spiritual Ismailiyah menjadi runtuh. Setelah al-Musta’li wafat. Al-Amin anak
al-musta’li yang baru berusia lima tahun diangkat menjadi khalifah.
Al-Amin
kemudian digantikan oleh al-Hafidz. Karena ia meninggal kekuasaannya
benar-benar hanya sebatas istana kekhalifahan saja. Anak dan penggantinya,
az-Zafir diangkat menjadi khalifah dalam usia yang masih sangat muda, hingga
merasa tidak mampu menghadapi tentara salib, khalifah az-Zafir melalui wazirnya
Ibnu Salar, meminta bantuan kepada Nuruddin az-Zanki, penguasa Suriah di bawah
kekuasaan Baghdad. Nuruddin mengirim pasukan ke Mesir di bawah panglima Syirkuh
dan Salahuddin Yusuf bin al-Ayubi yang kemudian berhasil membendung invasi
tertara salib ke Mesir. Kemudian kekuasaan az-Zafir direbut oleh wazirnya, Ibnu
Sallar. Tapi Ibnu Salar kemudian dibunuh, dan az-Zafir juga terbunuh secara
misterius, kemudian naiklah al-Faiz, anak az-Zafir yang baru berusia empat
tahun sebagai khalifah. Khalifah kecil ini meninggal dalam usia 11 tahun dan
digantikan oleh sepupunya al-Adhid yang baru berumur sembilan tahun. Maka pada
tahun 1167 M pasukan Nuruddin az-Zanki untuk kedua kalinya kembali memasuki
Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Kedatangan mereka kali ini
tidak hanya membantu melawan kaum salib, tetapi juga untuk menguasai Mesir.
Dari pada Mesir dikuasai tentara salib, lebih baik mereka sendiri yang
menguasainya. Apalagi perdana mentri Mesir waktu itu, telah melakukan
penghianatan. Akhirnya pasukan Nuruddin berhasil mengalahkan tentara salib dan
menguasai Mesir.
Semenjak
itulah kedudukan Salahuddin di Mesir semakin mantap. Apalagi ia mendapat
dukungan dari masyarakat yang mayoritas sunni. Peristiwa ini menyebabkan
menguatnya pengaruh Nuruddin az-Zanki dan panglimanya Salahuddin al-Ayubi.
Puncaknya terjadi pada masa al-Adid, pada masa pemerintahannya Salahuddin telah
menduduki jabatan wazir. Dengan kekuasaannya Salahuddin al-Ayubi mengadakan
pertemuan dengan para pembesar untuk menyelenggarakan khutbah dengan
menyebut nama khalifah Abasiyyah, al-Mustadi. Ini adalah simbol dari runtuhnya
dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah untuk kemudian
digantikan oleh Dinasti Ayubiyah.[16]
A.
Khilafah Dinasti Ayyubiah
Dinasti Ayubiyyah didirikan oleh Salahuddin Al-Ayubbi yang bersama Shirkuh menaklukan Mesir untuk Raja Zengiyyah Nuruddin dari Damaskus pada 1169. Nama ini berasal dari ayah Salahuddin, Najm ad-Din Ayyub. Pada tahun 1171,Salahuddin menggulingkan Khalifah Fatimiyyah terakhir. Ketika Nur ad-Din meninggal pada 1174, Salahuddin menyatakan perang terhadap anak
lelaki muda Nuruddin, As-Salih
Ismail, dan menguasai
Damaskus. Ismail melarikan diri ke Aleppo, dimana ia terus berjuang melawan Salahuddin
hingga terbunuh pada 1181. Setelah itu, Salahuddin mengambil alih
kawasan pedalaman hingga seluruh Suriah, dan menakluki Jazirah di Irak Utara.
Pencapaian terbesarnya adalah mengalahkan tentara
salib dalam Pertempuran
Hattin dan
penaklukan Baitulmuqaddis pada 1187.Salahuddin meninggal pada 1193 setelah menandatangani perjanjian dengan Richard I dari Inggris yang memberi kawasan pesisir dari Ashkelonhingga Antiokhia kepada tentara salib.Sultan-sultan yang
berkuasa pada zaman dinasti ayyubiah yaitu :
1.
Salahuddin
yusuf (1174-1193)
2.
Al-aziz
bin ahalahuddin (1193-1198)
3.
Manshur
bin al-aziz (1198-1199)
4.
Al-adil
1 ahmad bin ayyub (1199-1218 M)
5.
Al-kamil
(1218-1238 M)
6.
Al-adil
II (1238-1240)
7.
Sholeh
najmuddin (1240-1249)
8.
Muazzam
thauran bin shaleh (1249-1249 M)
9.
Syajarat
al-dur istri malik shaleh (1249-1249 M)
10. Asyraf bin yusuf (1249-1250 M)
B.
Sejarah Munculnya Dinasti Ayyubiyah
Dinasti Ayyubiyah di Mesir berkuasa tahun 1169 sampai
akhir abad ke-15 M. menggantikan dinasti Fatimiyah. Pendiri dinasti ini adalah
Salahuddin. Ia menghapuskan sisa-sia Fatimiyah di Mesir yang bercorak Syi’a dan mengembalikannya ke
faham sunni-ahlu sunnah wal jama’ah-. Reputasi Salahudin bersinar setelah
sukses melawan tentara Salib dengan mempersatukan pasukan Turki, Kurdi dan
Arab. Kota Yerussalem pada tahun 1187 kembali ke pangkuan Islam dari tangan
tentara Salib yang telah menguasainya selama 80 tahun.
Gangguan politik terus-menerus
dari wilayah sekitarnya menjadikan wibawa Fathimiyah merosot. Pada 564 Hijriah
atau 1167 Masehi, Salahuddin Al-Ayyubi mengambil alih kekuasaan Fathimiya.Tokoh Kurdi yang juga
pahlawan Perang Salib tersebut membangun Dinasti Ayyubiyah, yang berdiri
disamping Abbasiyah di Baghdad yang semakin lemah.
C.
Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam pada Masa
Dinasti Al-Ayyubiyah
Shalahudin panglima perang Muslim yang berhasil merebut Kota Yerusalem
pada Perang Salib itu tak hanya dikenal di dunia Islam, tetapi juga peradaban
Barat. Sosoknya begitu mempesona. Ia adalah pemimpin yang dihormati kawan dan
dikagumi lawan. Di era keemasannya, dinasti ini menguasai wilayah Mesir,
Damaskus, Aleppo, Diyarbakr, serta Yaman. Masa dinasti ini pula perkembangan wakaf
sangat menggembirakan, wakaf tidak hanya
terbatas pada benda tidak bergerak, tapi juga benda bergerak semisal wakaf
tunai. Tahun 1178 M/572 H, dalam rangka menyejahterakan ulama dan kepentingan
misi mazhab Sunni, Salahuddin Al-Ayyubi menetapkan
kebijakan bahwa orang Kristen yang datang dari Iskandar untuk berdagang wajib
membayar bea cukai. Tidak ada penjelasan, orang Kristen yang datang dari
Iskandar itu membayar bea cukai dalam bentuk barang atau uang, namun lazimnya bea cukai dibayar dengan
menggunakan uang. Uang hasil pembayaran bea cukai itu dikumpulkan dan
diwakafkan kepada para fuqaha’ dan para keturunannya.
Sebagaimana dinasti-dinasti sebelumnya, Dinasti Ayyubiyah pun mencapai
kemajuan yang gemilang dan mempunyai beberapa peninggalan bersejarah.
Kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang, diantaranya adalah :
1.
Bidang
Arsitektur dan Pendidikan
Penguasa Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota
pendidikan. Ini ditandai dengan dibangunnya Madrasah al–Shauhiyyah tahun 1239 M
sebagai pusat pengajaran empat madzhab hukum dalam sebuah lembaga Madrasah.
Dibangunnya Dar al Hadist al-Kamillah juga dibangun (1222 M) untuk mengajarkan
pokok-pokok hukum yang secara umum terdapat diberbagai madzhab hukum sunni.
Sedangkan dalam bidang arsitek dapat dilihat pada monumen Bangsa Arab, bangunan
masjid di Beirut yang mirip gereja, serta istana-istana yang dibangun
menyerupai gereja. Shalahuddin juga membangun benteng setelah menyadari bahwa
ancaman pasukan salib akan terus menghantui, maka tugas utama dia adalah
mengamankan Kairo dan sekitarnya (Fustat). Penasihat militernya saat itu
mengatakan bahwa Kairo dan Fustat masing-masing membutuhkan benteng pertahanan,
tapi Shalahuddin memiliki ide brilian, bahwa dia akan membangun benteng
strategis yang melindungi secara total kotanya. Selanjutnya, dia memerintahkan
untuk membangun benteng kokoh dan besar diatas bukit Muqattam yang melindungi
dua kota sekaligus Kairo dan Fustat.
Proyek besar Citadel dimulai pada 1176 M dibawah Amir Bahauddin
Qaraqush. Shalahuddin juga membangun dinding yang memagari Kairo sebagai kota
residen bani Fatimiyyah, sekaligus juga memagari benteng kebesarannya serta
Qata’i-al Fustat yang saat itu merupakan pusat ekonomi Kairo terbesar. Selain
itu, juga berdiri masjid agung di Sulaiman yang dimulai pembangunannya sejak
dinasti Umayyah pada 717 M, masjid agung Aleppo hingga kini masih menjadi salah
satu karya besar arsitektur di dunia muslim. Di masjid agung Aleppo terdapat
makam Nabi Zakaria dan di Damaskus terdapat makam Nabi Yahya. Bentuk dan
konstruksi masjid agung Damaskus dari dulu hingga kini masih terjaga, sementara
masjid Aleppo sudah banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya karena
sempat diguncang gempa bumi dan dihancurkan oleh serangan Bizantium dan tentara
Mongol. Meski tak lagi mewarisi struktur masjid peninggalan bani umayyah, namun
masjid agung Aleppo sangat dikenal sebagai masterpiece dalam dunia islam,
karena mewarisi sentuhan beragam dinasti islam yang pernah Berjaya.
2.
Bidang
Filsafat dan Keilmuan
Bukti konkritnya adalah Adelasd of Bath yang telah diterjemahkan,
karya-karya orang Arab tentang astronomi dan geometri, penerjemahan bidang
kedokteran. Di bidang kedokteran ini telah didirikan sebuah rumah sakit bagi
orang yang cacat pikiran.
3.
Bidang
Industri
Kemajuan di bidang ini dibuktikan dengan
dibuatnya kincir oleh seorang Syiria yang lebih canggih dibanding buatan orang
Barat. Terdapat pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas.
4.
Bidang
Perdagangan
Bidang ini membawa pengaruh bagi Eropa dan negara–negara yang dikuasai
Ayyubiyah. Di Eropa terdapat perdagangan agriculture dan industri. Hal ini
menimbulkan perdagangan internasional melalui jalur laut, sejak saat itu Dunia
ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank, termasuk Letter
of Credit (LC), bahkan ketika itu sudah ada uang yang terbuat dari emas.
5.
Bidang
Militer
Selain memiliki alat-alat perang seperti
kuda, pedang, panah, dan sebagainya, ia juga memiliki burung elang sebagai
kepala burung-burung dalam peperangan.Disamping itu, adanya perang Salib telah
membawa dampak positif, keuntungan di bidang industri, perdagangan, dan
intelektual, misalnya dengan adanya irigasi.
D.
Akhir Masa Dinasti
Ayyubiyyah
Dinasti Ayubiyyah mula merosot ketika mereka mulai
bergantung kepada hamba yang dibawa dari Turki dan Mongol sebagai tentera.
Hamba-hamba ini mula bertambah kuat dan dikenali sebagai Mamluk.Salah satu tokoh yang menjadi penyebab runtuhnya
ayyubiah adalah kerena rekayasa syajatar al-durr yng sebenarnya adalah seorang
mamluk yang membunuh putra kerajaan ayyubiah. Kekuasaan Ayubiyyah merosot terus selepas
kehilangan Mesir kepada Mamluk pada tahun 1250. Ayubiyyah terus memerintah Damsyik
dan Aleppo sehingga tahun 1260 hingga mereka diusir keluar oleh orang Mongol.
Kemarahan Mongol yang dapat disekat di Ain Jalut oleh tentera Mamluk sehingga
menjadikan Mamluk semakin kuat. Tahun berikutnya hampir seluruh Syria jatuh ke
tangan Mamluk. Kerajaan Ayubiyyah sempat masih terus memerintah sebagian kecil
kawasan Syria seperti Hamah untuk 70 tahun berikutnya sehingga mereka diduduki
oleh Mamluk.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
:
1.
Dinasti
fatimiyah adalah dinasti yang berjaya di mesir yang sebelumnya eksis di daerah
afrika (Tunisia) yang bermashabkan syi’a ismailiyah.
2.
Dinasti
fatimiyah memberikan kontribusi yang luar biasa pada beradaan islam dalam
bidang politik,pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan bidang ekonomi, dan
pembangunan serta perluasan wilayah.
3.
Kemunduran
dinasti fatimiyah disebabkan oleh :
a.
Ketidakmampuan
dinasti mengatur tentara impor yang mengadakan perselisihan yang berujung pada
perpecahan.
b.
Pengangkatan
khalifah yang usianya masih sangat muda.
c.
Hilangnya
semangat toleransi beragama di mesir dimana terjadi pemaksaan untuk memeluk
syi’ah.
4.
Dinasti
ayyubiah adalah dinasti yang bermazhabkan sunni yang berada naungan dinasti
abbasiyah di baghdad.
5.
Majunya
dinasti ayyubiyah ditandai oleh di taklukkannya pasukan salib oleh salahuddin
al-ayyuby dan pasukannya serta kembalinya palestina sebagai kekuasaan islam.
Selain itu dinasti ini dikenal dengan sikap toleransi beragama.
6.
Kemunduran
ayyubiyah disebabkan oleh pemberontakan mamluk (budak) seperti yang dilakukan
oleh syajarat al durr. Ia adalah seorang mamsluk yang berambisi menjadi sultan.
B.
Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami buat,sebagai manusia
biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan dan kekurangan.Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
DAFTAR PUSTAKA
Sunanto musyrifah, SEJARAH PERADABAN ISLAM perkembangan imu pengetahuan islam,
Jakarta : Kencana,2007.
Farhan Ahmad ishak, Menyiasati Perang Peradaban, Jakarta : Harakah,
2002.
Lubis amani, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Pusat Studi Wanita
(PSW), 2005.
Sunanto musyrifa, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta : Rajawali
press, 2005.
Yatim Badri, Sejarah peradaban islam, Jakarta : PT.raja grafindo
Persada, 1997.
