Rabu, 21 September 2016

Teori Disonasi Kognitif

A.    Teori Disonasi Kognitif
Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut.
*   Pengertian Disonansi Kognitif
Apa sih disonansi kognitif itu? Wibowo (dalam Sarwono, S.W., 2009) mendefinisikannya sebagai keadaan tidak nyaman akibat adanya ketidaksesuaian antara dua sikap atau lebih serta antara sikap dan tingkah laku.Festinger (1957), berpendapat bahwa disonansi terjadi apabila terdapat hubungan yang bertolak belakang, yang diakibatkan oleh penyangkalan dari satu elemen kognitif terhadap elemen lain, antara elemen-elemen kognitif dalam diri individu.Hubungan yang bertolak belakang tersebut, terjadi bila ada penyangkalan antara elemen kognitif yang satu dengan yang lain, misalnya antara sikap positif A terhadap B (A mencintai suaminya B) dan sikap A terhadap perilaku B (berselingkuh).
Seorang lesbian, misalnya, dapat mengalami disonansi ketika menyadari orientasi seksualnya karena dia tahu agama dan norma sosial menganggap orientasinya sebagai penyimpangan. Akibatnya, lesbian tersebut berusaha menyangkal orientasinya untuk tetap berpegang pada norma agama dan norma sosial, atau justru menyangkal norma tersebut untuk dan berusaha merasa nyaman dengan orientasi seksualnya.
Namun, perlu diingat, bahwa istilah disonansi tidak hanya digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan orientasi seksual. Ketika seseorang bingung karena sangat ingin pergi ke luar kota bersama teman tetapi juga tidak ingin melanggar larangan orang tua, dia juga bisa disebut mengalami disonansi kognitif. Larangan yang harus dipatuhi berbenturan dan membentuk penyangkalan pada keinginannya untuk pergi.
Disonansi kognitif tidak hanya bisa timbul dari diri seseorang saja, tetapi juga dapat timbul akibat pengaruh faktor eksternal di luar dirinya. Seorang lesbian yang sudah merasa keluar dari masa denial dan bisa menerima orientasi seksualnya, misalnya, masih dapat mengalami disonansi kognitif akibat sikap atau perkataan orang lain. Dalam sebuah penelitian, seorang lesbian mengaku, ”The tension I experience comes from trying to answer ordained clergy’s questions about ‘ a sin of being openly avowing as a lesbian Christian” (Mahaffy, 1996).
Bila terjadi disonansi, ada sesuatu yang harus dilepas, atau ada ketidaksesuaian antara suatu keyakinan dengan keyakinan-keyakinan atau sikap yang penting. Bersikeras mempertahankan kedua-duanya, akan terasa sangat menyiksa.
*   Sumber Penyebab
Festinger (1957) menyebutkan dua situasi umum yang menyebabkan munculnya disonansi, yaitu ketika terjadi peristiwa ataua informasi baru dan ketika sebuah opini atau keputusan harus dibuat, dimana kognisi dari tindakan yang dilakukan berbeda dengan opini atau pengetahuan yang mengarahkan ke tindakan lain. Lebih lanjut Festinger menyebutkan empat sumber disonansi dari situasi tersebut, yaitu:
1.       Inkonsistensi logika (Logical inconsistency), yaitu logika berfikir yang mengingkari logika berfikir lain. Misalnya seseorang yang percaya bahwa manusia dapat mencapai bulan dan juga percaya bahwa manusia tidak dapat membuat alat yang dapat bantu keluar dari atmosfer bumi.
2.       Nilai budaya (cultural mores), yaitu bahwa kognisi yang dimiliki seseorang di suatu budaya kemungkinan akan berbeda di budaya lainnya. Misalnya seorang Jawa yang mengetahui bahwa makan dengan menggunakan tangan di daerahnya adalah suatu hal yang wajar, disonan dengan kenyataan bahwa hal tersebut tidak wajar pada etika makan di budaya Inggris.
3.       Opini umum (opinion generality), yaitu disonansi mungkin muncul karena sebuah pendapat yang berbeda dengan yang menjadi pendapat umum. Misalnya seorang anggota partai democrat yang dianggap public pasti mendukung kandidat dari partai yang sama, ternyata lebih memilih kandidat dari partai yang merupakan lawan dari partainya.
4.       Pengalaman masa lalu (past experience), yaitu disonansi akan muncul bila sebuah kognisi tidak konsisten dengan pengalaman masa lalunya. Misalnya seseoarang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan basah mengalami disonan ketika pada suatu hari ia ternyata mendapati dirinya tidak basah saat ia terkena hujan.


*   Implikasi Teori
Menurut Festinger, teori disonansi kognitif memiliki implikasi penting dalam banyak situasi spesifik (dalam shaw& Constanzo, 1982). Festinger menjabarkan implikasi dalam keputusan (decisions), Forced Compliance, Pencarian informasi (Expore to Information), dan dukungan sosial (social support). Dari situasi tersebut dapat diketahui besarnya kekuatan disinasi.
·       Keputusan
Festinger (1957) mengatakan bahwa disonansi merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan dari keputusan.Hal tersebut didasari oleh kenyataan bahwa seseorang individual harus berhadapan dengan sebuah situasi konflik sewbelum sebuah keputusan dapat dibuat.Pada umumnya, elemen disonan adalah aspek negative dari alternative yang dipilih dengan aspek positif dari alternative yang ditolak. Disonansi akan semakin kuat jika keputusan semakin penting dan jika ketertarikan dari alternative yang tidak dipilih semakin besar. Contoh, dari munculnya disonansi dari keputusan yang diambil adalah perokok berat yang memutuskan untuk tetap merokok mengalami disonan ketika ia mengalami sakit kanker paru-paru akibat merokok (hal negative dari alternative yang dipilih) dengan hal positif yang akan ia dapat bila tidak merokok, yaitu sehat (alternative yang ditolak).
·     Forced Complience
Forced Complience merupakan saatu permintaan dari luar diri seseorang yang dipaksakan kepada seorang individu. Aplikasi dari teori disonansi pada Forced Complience terbatas pada permintaan public(Complience) tanpa disertaioleh perubahan pendapat pribadi.
Sumber disonansi adalah kesadaran seseorang dari tingkah laku yang diharuskan public yang tidak konsisten dengan pendapat pribadi. Forced Compliance ini mempengaruhi individu (misalnya perokok berat) yang membuat berhasil merubah (berhenti merokok), merubah perilaku atau ucapan yang terlihat merubah opini dan keyakinan mereka dengan tetap memegang keyakinan sebelumnya (merokok sembunyi-sembunyi) atau justru membuat mereka mencari dukungan sosial yang mendukung pendapatnya (bergabung dengan klub penggemar rokok).
·     Pencarian Informasi
Festinger memberikan hipotesis bahwa pencarian informasi aktif berkolerasidengan kekuatan disonansi.Disonansi menyebabkan konsonan dan menghindari informasi yang menyebabkan disonansi.
·     Dukungan Sosial
Dukungan Sosial (Support Social) berperan dalam mengurangi kondisi disonan (Festinger, 1957). Disonansi kognitif akan dihasilkan oleh seseorang yang mengetahui bahwa orang lain memiliki opini yang berlawanan dengan opininya. Dalam hal ini akan dilihat seberapa stigma, yang merupakan keyakinan atau pendapat yang dimiliki oleh masyarakat terhadap mantan napi, konsonan dengan keyakinan atau pendapat mantan napi itu sendiri. LSM Sahabat Andik berupaya memberikan dukungan sosial salah satunya dengan memberikan opini yang positif terhadap mantan napi. Kekuatan disonansi yang dimiliki mantan napi yang bergabung ke dalam LSM Sahabat Andik tergantung dari:
1.     Seberapa besar elemen kognitif sosial terhadap mantan napi konsonan dengan opini yang dimiliki mantan napi tersebut
2.  Jumlah orang yang dikenal oleh suatu individu yang memiliki opini yang sama dengan dirinya
3. Pentingnya elemen atau opini tersebut
*      Asumsi-Asumsi Teoritis
Asumsi dari teori disonansi kognitif memiliki sejumlah anggapan atau asumsi dasar diantaranya adalah[3]:
  1. Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya. Teori ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementigkan adanya stabilitas dan konsistensi.
  2. Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi biologis. Teori ini merujuk pada fakta-fakta harus tidak konsisten secara psikologis satu dengan lainnya untuk menimbulkan disonansi kognitif.
  3. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan suatu tindakan dengan dampak-dampak yang tidak dapat diukur. Teori ini menekankan seseorang yang berada dalam disonansi memberikan keadaan yang tidak nyaman, sehingga ia akan melakukan tindakan untuk keluar dari ketidaknyamanan tersebut.
  4. Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi.
Menurut Leon Festinger, Perasaan yang tidak seimbang sebagai disonansi kognitif; hal ini merupakan perasaan yang dimiliki orang ketika mereka menemukan diri mereka sendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang”(1957, hal 4).
Konsep ini membentuk inti dari teori disonansi kognitif, teori ini berpendapat bahwa disonansi adalah sebuah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyaman itu.
Teori disonansi kognitif beranggapan bahwa dua elemen pengetahuan merupakan hubungan yang disonan (tidak harmonis) apabila dengan mempertimbangkan dua eleman itu sendiri pengamatan satu elemen akan mengikuti elemen lainnya. Teori berpendapat bahwa disonansi, secara psikologis tidak nyaman , maka akan memotifasi seseorang untuk berusaha mengurangi disonansi dan mencapai harmonis atau keselarasan. Orang juga akan secara aktif menolak situasi-situasi dan informasi yang sekiranya akan memunculkan disonansi dalam berkomunikasi.
*     Dalam teori disonansi kognitif ada tiga elemen yang menjadi sorotan, yaitu :
1. Tidak relevan satu sama lain.
2. Konsisten satu sama lain (harmoni).
3. Tidak konsisten satu sama lain (disonansi).
Roger brown (1965) mengatakan, dasar dari teori ini mengikuti sebuah prinsip yang cukup sederhana ”Keadaan disonansi kognitif dikatakan sebagai keadaam ketidaknyaman psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha-usaha untuk mencapai konsonansi”. Disonansi adalah sebutan ketidakseimbangan dan konsonansi adalah sebutan untuk keseimbangan. Brown menyatakan teori ini memungkinkan dua elemen untuk melihat tiga hubungan yang berbeda satu sama lain. Mungkin saja konsonan (consonant), disonansi (dissoanant), atau tidak relevan (irrelevan).
Hubungan konsonan (consonant relationship) ada antara dua elemen ketika dua elemen tersebut pada posisi seimbang satu sama lain. Jika anda yakin, misalnya, jika bahwa kesehatan dan kebugaran adalah tujuan yang penting dan anda berolahraga sebanyak tiga sampai lima kali dalam seminggu, maka keyakinan anda mengenai kesehatan dan perilaku anda sendiri akan memiliki hubungan yang konsonan antara satu sama lain. Atau pada kasus kaum lesbian. Jika perilaku lesbian dan norma agama atau sosial tidak ada pertentangan, berarti lesbian dengan norma agama dan sosial merupakan hubungan yang konsonan.
Hubungan disonansi (dissonant relationship) berarti bahwa elemen-elemennya tidak seimbang satu dengan lainnya.Contoh dari hubungan disonan antarelemen adalah seorang penganut agama yang mendukung hak perempuan untuk memilih melakukanaborsi.Dalam kasus ini, keyakinan keagamaan orang itu berkonflik dengan keyakinan politiknya mengenai aborsi. Atau kasus kaum lesbian, mengenai perilakunya yang lesbi dengan konflik dengan norma agama atau sosial yang bertentangan, membuat hubungan ini disonan.
Hubungan tidak relevan (irrelevan relationship) ada ketika elemen-elemen tidakmengimplikasikan apa pun mengenai satu sama lain. Pentingnya disonansi kognitif bagi peneliti komunikasi ditunjukkan dalam pernyataan Festinger bahwa ketidaknyaman yang disebabkan oleh disonansi akan mendorong terjadinya perubahan.
*   Konsep dan Proses Disonansi Kognitif
Ketika teoretikus disonansi berusaha untuk melakukan prediksi seberapa banyak ketidaknyaman atau disonansi yang dialami seseorang, mereka mengakui adanya konsep tingkat disonansi.Tingkat disonansi (magnitude of dissonance) merujuk kepada jumlah kuantitatif disonansi yang dialami oleh seseorang. Tingkat disonansi akan menentukan tindakan yang akan diambil seseorang dan kognisi yang mungkin ia gunakan untuk mengurangi disonansi. Teori CDT membedakan antara situasi yang menghasilkan lebih banyak disonansi dan situasi yang menghasilkan lebih sedikit disonansi.
*   Tingkat Disonansi
Merujuk kepada jumlah inkonsistensi yang dialami seseorang, ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi tingkat disonansi yang dirasakan seseorang(Zimbardo, ebbsen&Maslach, 1977):
  1. Kepentingan, atau seberapa signifikan suatu masalah, berpengaruh terhadap tingkat disonansi yang dirasakan.
  2. Rasio disonansi atau jumlah kognisi disonan berbanding dengan jumlah kognisi yang konsonan.
  3. Rasionalitas yang digunakan individu untuk menjustifikasi inkonsistensi. Faktor ini merujuk pada alasan yang dikemukan untuk menjelaskan mengapa sebuah inkonsistensi muncul. Makin banyaka alasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesenjangan yang ada, maka semakin sedikit disonansi yang seseorang rasakan.
*     Disonansi Kognitif dan Persepsi
Teori CDT berkaitan dengan proses pemilihan terpaan (selective exposure), pemilihan perhatian (selective attention), pemilihan interpretasi (selective interpretation), dan pemilihan retensi (selective retention), karena teori ini memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi. Proses perseptual ini merupakan dasar dari penghindaran ini.
a. Terpaan Selektif (Selective Exposure)
Mencari informasi yang konsisten yang belum ada, membantu untuk mengurangi disonansi. CDT memprediksikan bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi dan mencari informasi yang konsisten dengan sikap dan prilaku mereka.
b. Pemilihan Perhatian (Selective Attention)
Merujuk pada melihat informasi secara konsisten begitu konsisten itu ada.Orangmemperhatikan informasi dalam lingkungannya yang sesuai dengan sikap dan keyakinannya sementara tidak menghiraukan informasi yang tidak konsisten.
c. Interpretasi Selektif (Selective Interpretation)
Melibatkan penginterpretasikan informasi yang ambigu sehingga menjadi konsisten. Dengan menggunakan interpretasi selektif, kebanyakan orang menginterpretasikan sikap teman dekatnya sesuai dengan sikap mereka sendiri daripada yang sebenarnya terjadi(Bescheid&Walster,1978).
d. Retensi Selektif (Selective Retention)
Merujuk pada mengingat dan mempelajari informasi yang konsisten dengan kemampuannya yang lebih besar dibandingkan yang kita akan lakukan terhadap informasi yang konsisten dengan kemampuan yang lebih besar dibandingkan yang kita lakukan terhadap informasi yang tidak konsisten.
*     Cara Mengatasi Disonansi Kognitif
Ada banyak cara untuk mengatasi disonansi kognitif, namun cara yang paling efektif untuk ditempuh adalah:
a. Mengurangi pentingnya keyakinan disonan kita.
b. Menambahkan keyakinan yang konsonan.
c. Menghapus disonansi dengan cara tertentu.
Aronson dan Festinger (1968; 1957; dalam Sarwono, S.W., 2009) mengemukakan tiga mekanisme yang dapat digunakan untuk mengurangi disonansi kognitif, yaitu:
  1. Mengubah sikap atau perilaku menjadi konsisten satu sama lain. Seorang lesbian yang tinggal di lingkungan yang sangat keras menentang homoseksualitas, misalnya, dapat mengaplikasikan mekanisme ini dengan dua cara, yaitu: (1) mengubah orientasi seksualnya atau setidaknya berpura-pura menjadi heteroseksual; atau (2) pindah ke lingkungan lain yang lebih bisa menerima diri dan orientasinya.
  2. Mekanisme yang kedua adalah mencari informasi baru yang mendukung sikap atau perilaku untuk menyeimbangkan elemen kognitif yang bertentangan. Misalnyanya seorang lesbian mencari informasi tentang perilakunya yang menyimpang di lihat dari sudut sosial, mencari pembenaran dengan hal yang serupa. Misalnya, sebut aja disini artikel SepociKopi, membaca artikel ini, mungkin kamu tanpa sadar sedang menjalankan mekanisme tersebut. Atau cari info lain yang juga bisa menemukan beberapa artikel argumentatif yang mengemukakan bahwa homoseksualitas sebenarnya tidak bertentangan dengan agama tertentu. Berusaha mencari artikel sejenis untuk menenangkan diri atau dijadikan dasar argumen ketika berdiskusi dengan orang lain juga merupakan aplikasi dari mekanisme di atas.
  3. Mekanisme yang terakhir adalah trivialization yang berarti mengabaikan atau menganggap ketidaksesuaian antara sikap atau perilaku penyebab disonansi sebagai hal yang biasa. Kamu menjalankan mekanisme ini ketika kamu berusaha tidak peduli, dan tetap berusaha menjalani hari-hari sesuai dengan norma yang ada, meskipun tetap menjalankan kehidupan sebagai lesbian misalnya.



















B.   Pengertian Psikososial Menurut Para Ahli
1. Hubert Bonner
Menurut Hubert Bonner dalam bukunya “Social Psychology”,psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.
2. Gordon Allport
Pada tahun 1985,Gordon Allport mengemukakan bahwa psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan,dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain,baik secara nyata atau aktual, dalam bayangan atau imajinasi, dan dalam kehadiran yang tidak langsung (implied).
3. A.M. Chorus
Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
4. David O Sears
Psikologi sosial adalah ilmu yang berusaha secara sistematis untuk memahami perilaku sosial mengenai bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial, bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita, dan bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial.
5. Berhm dan Kassin
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari cara individu berpikir,merasa, dan bertingkah laku dalam setting sosial.
6. Sherif dan Sherif
Pengertian psikologi sosial menurut Sherif & Sherif dalam bukunya yang berjudul An Outline of Social Psychology adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam kaitannya dengan situasi-situasi perangsang sosial. Dalam definisi ini, tingkah laku telah dihubungkan dengan situasi-situasi perangsang sosial.
7. Sherif dan Musfer
Menurut pendapat Sherif & Musfer pada tahun 1956, psikologi sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial. Dalam definisi ini, stimulus sosial diartikan bukan hanya manusia, tetapi juga benda-benda dan hal-hal lain yang diberi makna sosial.
8. Jones dan Gerard
Menurut Jones & Gerard pada tahun 1967, psikologi sosial adalah sub disiplin dari ilmu psikologi yang fokus pada studi ilmiah tentang perilaku individu yang berfungsi sebagai perangsang sosial.
9. Michener dan Delamater
Menurut Michener & Delamater yang diungkapkan pada tahun 1999, psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang sebab-sebab dari perilaku sosial manusia.
10. Hartley
Menurut Hartley yang diungkapkan pada tahun 1961, psikologi sosial adalah cabang ilmu sosial yang berusaha memahami perilaku individu dalam konteks sosial.
11. Mc Grath
Psikologi sosial merupakan pengkajian saintifik berkenaan dengan tingkah laku.
12. Shaw dan Costanzo
Menurut Shaw dan Costanzo yang dikemukakan pada tahun 1970, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang sosial.
13. Baron dan Byrne
Menurut Baron & Byrne pada tahun 2006, psikologi sosial adalah bidang ilmu yang mencari pemahaman tentang asal mula dan penyebab terjadinya pikiran serta perilaku individu dalam situasi-situasi sosial. Definisi ini menekankan pada pentingnya pemahaman terhadap asal mula dan penyebab terjadinya perilaku dan pikiran.
14. Mc. David dan Harrari
Menurut Mc. David dan Harrari pada tahun 1968, psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan individu lain, kelompok, dan budaya.
15. Krech, Crutchfield, dan Ballachey
Menurut Krech, Crutchfield, dan Ballachey yang dikemukakan pada tahun 1962, psikologi sosial dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang peristiwa perilaku interpersonal.
16. Myers
Menurut Myers yang diungkapkan pada tahun 1990, psikologi sosial adalah pengetahuan tentang bagaimana orang berpikir, mempengaruhi, dan berhubungan dengan orang lain.
17. Kenneth J. Gergen dan Mary Gergen
Psikologi sosial didefinisikan sebagai satu disiplin ilmu yang merujuk kajian sistematik ke atas hubungan interaksi sesama manusia.
18. Boring, Langveld, dan Weld
Menurut Boring, Langveld, dan Weld dalam bukunya yang berjudul Foundations of Psychology, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari individu manusia dalam kelompoknya dan hubungan antara manusia dengan manusia.
19. Watson
Menurut Watson pada tahun 1966, psikologi sosial adalah ilmu tentang interaksi manusia.
20. Brigham
Menurut Brigham pada tahun 1991, psikologi sosial adalah pengetahuan tentang perilaku saling pengaruh mempengaruhi antar individu atau kelompok individu.
21. Kimball Young
Menurut Kimball Young pada tahun 1956, psikologi sosial adalah studi tentang proses interaksi individu manusia.
22. Dewey dan Huber
Menurut Dewey & Hubber pada tahun 1916, psikologi sosial adalah studi tentang manusia individual, ketika berinteraksi, biasanya secara simbolis dengan lingkungannya, yaitu dengan lambang yang digunakan oleh manusia untuk saling berinteraksi, misalnya: kata-kata, huruf, rambu-rambu, lalu lintas, papan nama, dan lain-lain.
23. Joseph E. Mc. Grath
Menurut Joseph E. Mc. Grath pada tahun 1965, psikologi sosial adalah ilmu yang menyelidiki tingkah laku manusia sebagaimana dipengaruhi oleh kehadiran,keyakinan, tindakan,dan lambang-lambang dari orang lain.
24. Secord dan Backman
Menurut Secord & Backman pada tahun 1974, psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari individu dalam konteks sosial.
Ø  Menurut saya psikologi sosial Merupakan Ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku,caraberfikir dan bertindak dengan kaitannya dengan lngkungan sosial.

YUNICA DAMAYANTI
50300115091

Kessos C

Tidak ada komentar:

Posting Komentar