1. Menurut William J. Seller Komunikasi adalah suatu proses dimana simbol nonverbal dan verbal dikirimkan,diterima dan diberi makna.
2. Menurut Forsdale Komunikasi adalah sebuah proses yang dalam sistem terbentuk dan dipelihara serta diubah dengan bertujuan agar sinyal-sinyal yang dikirimkan dan dapat diterima dengan dilakukan sesuai dengan aturan yang telah dittapkan.
3. Menurut Colin Cherry Komunikasi adalah proses yang pihak-pihak saling menggunakan suatu informasi dalam mencapai suatu tujuan secara bersama dan mengaitkan sebuah hubungan antar penerus rangsangan dan membangkitkan balasannya.
4. Menurut Raymond Ross Komunikasi adalah suatu proses yang menyortir,memilih dan mengirim sebuah simbol-simbol yang sedemikian rupa sehingga bisa membantu pendengar dalam membangkitkan suatu daya respon atau pemaknaan dari sebuah pemikiran yang selaras dengan yang dimaksud oleh komunikator.
5. Menurut Everett M.Rogers Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber ke penerima atau lebih,dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
6. Menurut Rogers dan D.Lawrence Kincaid Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau pertukaran informasi dengan satu sama lain,yang pada gilirannya akan tiba di saling pengertian luas.
7. Menurut Shannon dan Weaver Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain,sengaja atau tidak sengaja.Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal,tetapi juga dalam hal ekspresi wajah,lukisan,seni,dan teknologi.
8. Menurut Murphy dan Mendelson Komunikasi adalah untuk membangun dan menjaga serta mempertahankan hubungan interpersonal.
9. Menurut Aristoteles Komunikasi adalah sarana yang warga negara dapat berpartisipasi dalam masyarakat demokratis.
10. Menurut Leksikograf Komunikasi adalah upaya yan bertujuan berbagi untuk mencapai kesatuan.Jika dua orang untuk berkomunikasi pemahaman yang sama dari pesan yang dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya.
Rabu, 21 September 2016
Teori Disonasi Kognitif
A. Teori Disonasi Kognitif
Teori
disonansi kognitif merupakan sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai
perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan
perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah
demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut.
Apa
sih disonansi kognitif itu? Wibowo (dalam Sarwono, S.W., 2009)
mendefinisikannya sebagai keadaan tidak nyaman akibat adanya ketidaksesuaian
antara dua sikap atau lebih serta antara sikap dan tingkah laku.Festinger
(1957), berpendapat bahwa disonansi terjadi apabila terdapat hubungan yang
bertolak belakang, yang diakibatkan oleh penyangkalan dari satu elemen kognitif
terhadap elemen lain, antara elemen-elemen kognitif dalam diri
individu.Hubungan yang bertolak belakang tersebut, terjadi bila ada
penyangkalan antara elemen kognitif yang satu dengan yang lain, misalnya antara
sikap positif A terhadap B (A mencintai suaminya B) dan sikap A terhadap
perilaku B (berselingkuh).
Seorang
lesbian, misalnya, dapat mengalami disonansi ketika menyadari orientasi
seksualnya karena dia tahu agama dan norma sosial menganggap orientasinya
sebagai penyimpangan. Akibatnya, lesbian tersebut berusaha menyangkal
orientasinya untuk tetap berpegang pada norma agama dan norma sosial, atau
justru menyangkal norma tersebut untuk dan berusaha merasa nyaman dengan
orientasi seksualnya.
Namun,
perlu diingat, bahwa istilah disonansi tidak hanya digunakan untuk hal-hal yang
berhubungan dengan orientasi seksual. Ketika seseorang bingung karena sangat
ingin pergi ke luar kota bersama teman tetapi juga tidak ingin melanggar
larangan orang tua, dia juga bisa disebut mengalami disonansi kognitif.
Larangan yang harus dipatuhi berbenturan dan membentuk penyangkalan pada
keinginannya untuk pergi.
Disonansi
kognitif tidak hanya bisa timbul dari diri seseorang saja, tetapi juga dapat
timbul akibat pengaruh faktor eksternal di luar dirinya. Seorang lesbian yang
sudah merasa keluar dari masa denial dan bisa menerima orientasi seksualnya,
misalnya, masih dapat mengalami disonansi kognitif akibat sikap atau perkataan
orang lain. Dalam sebuah penelitian, seorang lesbian mengaku, ”The tension I
experience comes from trying to answer ordained clergy’s questions about ‘ a
sin of being openly avowing as a lesbian Christian” (Mahaffy, 1996).
Bila
terjadi disonansi, ada sesuatu yang harus dilepas, atau ada ketidaksesuaian
antara suatu keyakinan dengan keyakinan-keyakinan atau sikap yang penting.
Bersikeras mempertahankan kedua-duanya, akan terasa sangat menyiksa.
Festinger
(1957) menyebutkan dua situasi umum yang menyebabkan munculnya disonansi, yaitu
ketika terjadi peristiwa ataua informasi baru dan ketika sebuah opini atau
keputusan harus dibuat, dimana kognisi dari tindakan yang dilakukan berbeda
dengan opini atau pengetahuan yang mengarahkan ke tindakan lain. Lebih lanjut
Festinger menyebutkan empat sumber disonansi dari situasi tersebut, yaitu:
1.
Inkonsistensi logika
(Logical inconsistency), yaitu logika berfikir yang mengingkari logika berfikir
lain. Misalnya seseorang yang percaya bahwa manusia dapat mencapai bulan dan
juga percaya bahwa manusia tidak dapat membuat alat yang dapat bantu keluar
dari atmosfer bumi.
2.
Nilai budaya
(cultural mores), yaitu bahwa kognisi yang dimiliki seseorang di suatu budaya
kemungkinan akan berbeda di budaya lainnya. Misalnya seorang Jawa yang
mengetahui bahwa makan dengan menggunakan tangan di daerahnya adalah suatu hal
yang wajar, disonan dengan kenyataan bahwa hal tersebut tidak wajar pada etika
makan di budaya Inggris.
3.
Opini umum (opinion
generality), yaitu disonansi mungkin muncul karena sebuah pendapat yang berbeda
dengan yang menjadi pendapat umum. Misalnya seorang anggota partai democrat
yang dianggap public pasti mendukung kandidat dari partai yang sama, ternyata
lebih memilih kandidat dari partai yang merupakan lawan dari partainya.
4.
Pengalaman masa lalu
(past experience), yaitu disonansi akan muncul bila sebuah kognisi tidak
konsisten dengan pengalaman masa lalunya. Misalnya seseoarang yang mengetahui
bahwa bila terkena hujan akan basah mengalami disonan ketika pada suatu hari ia
ternyata mendapati dirinya tidak basah saat ia terkena hujan.
Menurut
Festinger, teori disonansi kognitif memiliki implikasi penting dalam banyak
situasi spesifik (dalam shaw& Constanzo, 1982). Festinger menjabarkan
implikasi dalam keputusan (decisions), Forced Compliance, Pencarian informasi
(Expore to Information), dan dukungan sosial (social support). Dari situasi
tersebut dapat diketahui besarnya kekuatan disinasi.
·
Keputusan
Festinger (1957) mengatakan bahwa disonansi merupakan
konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan dari keputusan.Hal tersebut
didasari oleh kenyataan bahwa seseorang individual harus berhadapan dengan
sebuah situasi konflik sewbelum sebuah keputusan dapat dibuat.Pada umumnya, elemen disonan adalah aspek
negative dari alternative yang dipilih dengan aspek positif dari alternative
yang ditolak. Disonansi akan semakin kuat jika keputusan semakin penting dan
jika ketertarikan dari alternative yang tidak dipilih semakin besar. Contoh,
dari munculnya disonansi dari keputusan yang diambil adalah perokok berat yang
memutuskan untuk tetap merokok mengalami disonan ketika ia mengalami sakit
kanker paru-paru akibat merokok (hal negative dari alternative yang dipilih)
dengan hal positif yang akan ia dapat bila tidak merokok, yaitu sehat
(alternative yang ditolak).
·
Forced Complience
Forced
Complience merupakan saatu permintaan dari luar diri seseorang yang dipaksakan
kepada seorang individu. Aplikasi dari teori disonansi pada Forced Complience
terbatas pada permintaan public(Complience) tanpa disertaioleh perubahan
pendapat pribadi.
Sumber
disonansi adalah kesadaran seseorang dari tingkah laku yang diharuskan public
yang tidak konsisten dengan pendapat pribadi. Forced Compliance ini
mempengaruhi individu (misalnya perokok berat) yang membuat berhasil merubah
(berhenti merokok), merubah perilaku atau ucapan yang terlihat merubah opini dan
keyakinan mereka dengan tetap memegang keyakinan sebelumnya (merokok
sembunyi-sembunyi) atau justru membuat mereka mencari dukungan sosial yang
mendukung pendapatnya (bergabung dengan klub penggemar rokok).
·
Pencarian Informasi
Festinger
memberikan hipotesis bahwa pencarian informasi aktif berkolerasidengan kekuatan
disonansi.Disonansi menyebabkan konsonan dan menghindari informasi yang
menyebabkan disonansi.
·
Dukungan Sosial
Dukungan
Sosial (Support Social) berperan dalam mengurangi kondisi disonan (Festinger,
1957). Disonansi kognitif akan dihasilkan oleh seseorang yang mengetahui bahwa
orang lain memiliki opini yang berlawanan dengan opininya. Dalam hal ini akan
dilihat seberapa stigma, yang merupakan keyakinan atau pendapat yang dimiliki
oleh masyarakat terhadap mantan napi, konsonan dengan keyakinan atau pendapat
mantan napi itu sendiri. LSM Sahabat Andik berupaya memberikan dukungan sosial
salah satunya dengan memberikan opini yang positif terhadap mantan napi.
Kekuatan disonansi yang dimiliki mantan napi yang bergabung ke dalam LSM
Sahabat Andik tergantung dari:
1. Seberapa besar elemen kognitif sosial terhadap mantan
napi konsonan dengan opini yang dimiliki mantan napi tersebut
2. Jumlah orang
yang dikenal oleh suatu individu yang memiliki opini yang sama dengan dirinya
3. Pentingnya elemen atau opini tersebut
Asumsi
dari teori disonansi kognitif memiliki sejumlah anggapan atau asumsi dasar
diantaranya adalah[3]:
- Manusia
memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan
perilakunya. Teori ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari
manusia yang mementigkan adanya stabilitas dan konsistensi.
- Disonansi
diciptakan oleh inkonsistensi biologis. Teori ini merujuk pada fakta-fakta
harus tidak konsisten secara psikologis satu dengan lainnya untuk
menimbulkan disonansi kognitif.
- Disonansi
adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan suatu
tindakan dengan dampak-dampak yang tidak dapat diukur. Teori ini
menekankan seseorang yang berada dalam disonansi memberikan keadaan yang
tidak nyaman, sehingga ia akan melakukan tindakan untuk keluar dari
ketidaknyamanan tersebut.
- Disonansi
akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk
mengurangi disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi
yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi
tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi.
Menurut
Leon Festinger, Perasaan yang tidak seimbang sebagai disonansi kognitif; hal
ini merupakan perasaan yang dimiliki orang ketika mereka menemukan diri mereka
sendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui,
atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka
pegang”(1957, hal 4).
Konsep
ini membentuk inti dari teori disonansi kognitif, teori ini berpendapat bahwa
disonansi adalah sebuah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk
mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyaman itu.
Teori
disonansi kognitif beranggapan bahwa dua elemen pengetahuan merupakan hubungan
yang disonan (tidak harmonis) apabila dengan mempertimbangkan dua eleman itu
sendiri pengamatan satu elemen akan mengikuti elemen lainnya. Teori berpendapat
bahwa disonansi, secara psikologis tidak nyaman , maka akan memotifasi
seseorang untuk berusaha mengurangi disonansi dan mencapai harmonis atau
keselarasan. Orang juga akan secara aktif menolak situasi-situasi dan informasi
yang sekiranya akan memunculkan disonansi dalam berkomunikasi.
1. Tidak relevan satu
sama lain.
2. Konsisten satu
sama lain (harmoni).
3. Tidak konsisten
satu sama lain (disonansi).
Roger
brown (1965) mengatakan, dasar dari teori ini mengikuti sebuah prinsip yang
cukup sederhana ”Keadaan disonansi kognitif dikatakan sebagai keadaam
ketidaknyaman psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha-usaha untuk
mencapai konsonansi”. Disonansi adalah sebutan ketidakseimbangan dan konsonansi
adalah sebutan untuk keseimbangan. Brown menyatakan teori ini memungkinkan dua
elemen untuk melihat tiga hubungan yang berbeda satu sama lain. Mungkin saja
konsonan (consonant), disonansi (dissoanant), atau tidak relevan (irrelevan).
Hubungan
konsonan (consonant relationship) ada antara dua elemen ketika dua elemen
tersebut pada posisi seimbang satu sama lain. Jika anda yakin, misalnya, jika
bahwa kesehatan dan kebugaran adalah tujuan yang penting dan anda berolahraga
sebanyak tiga sampai lima kali dalam seminggu, maka keyakinan anda mengenai
kesehatan dan perilaku anda sendiri akan memiliki hubungan yang konsonan antara
satu sama lain. Atau pada kasus kaum lesbian. Jika perilaku lesbian dan norma
agama atau sosial tidak ada pertentangan, berarti lesbian dengan norma agama
dan sosial merupakan hubungan yang konsonan.
Hubungan disonansi (dissonant relationship) berarti
bahwa elemen-elemennya tidak seimbang satu dengan lainnya.Contoh dari hubungan
disonan antarelemen adalah seorang penganut agama yang mendukung hak perempuan
untuk memilih melakukanaborsi.Dalam kasus ini, keyakinan
keagamaan orang itu berkonflik dengan keyakinan politiknya mengenai aborsi.
Atau kasus kaum lesbian, mengenai perilakunya yang lesbi dengan konflik dengan
norma agama atau sosial yang bertentangan, membuat hubungan ini disonan.
Hubungan
tidak relevan (irrelevan relationship) ada ketika elemen-elemen
tidakmengimplikasikan apa pun mengenai satu sama lain. Pentingnya disonansi
kognitif bagi peneliti komunikasi ditunjukkan dalam pernyataan Festinger bahwa
ketidaknyaman yang disebabkan oleh disonansi akan mendorong terjadinya
perubahan.
Ketika
teoretikus disonansi berusaha untuk melakukan prediksi seberapa banyak
ketidaknyaman atau disonansi yang dialami seseorang, mereka mengakui adanya
konsep tingkat disonansi.Tingkat disonansi (magnitude of dissonance) merujuk
kepada jumlah kuantitatif disonansi yang dialami oleh seseorang. Tingkat
disonansi akan menentukan tindakan yang akan diambil seseorang dan kognisi yang
mungkin ia gunakan untuk mengurangi disonansi. Teori CDT membedakan antara
situasi yang menghasilkan lebih banyak disonansi dan situasi yang menghasilkan
lebih sedikit disonansi.
Merujuk
kepada jumlah inkonsistensi yang dialami seseorang, ada tiga faktor yang dapat
mempengaruhi tingkat disonansi yang dirasakan seseorang(Zimbardo,
ebbsen&Maslach, 1977):
- Kepentingan,
atau seberapa signifikan suatu masalah, berpengaruh terhadap tingkat
disonansi yang dirasakan.
- Rasio
disonansi atau jumlah kognisi disonan berbanding dengan jumlah kognisi
yang konsonan.
- Rasionalitas
yang digunakan individu untuk menjustifikasi inkonsistensi. Faktor ini
merujuk pada alasan yang dikemukan untuk menjelaskan mengapa sebuah
inkonsistensi muncul. Makin banyaka alasan yang dimiliki seseorang untuk
mengatasi kesenjangan yang ada, maka semakin sedikit disonansi yang
seseorang rasakan.
Teori
CDT berkaitan dengan proses pemilihan terpaan (selective exposure), pemilihan
perhatian (selective attention), pemilihan interpretasi (selective
interpretation), dan pemilihan retensi (selective retention), karena teori ini
memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi.
Proses perseptual ini merupakan dasar dari penghindaran ini.
a. Terpaan Selektif
(Selective Exposure)
Mencari
informasi yang konsisten yang belum ada, membantu untuk mengurangi disonansi.
CDT memprediksikan bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan
disonansi dan mencari informasi yang konsisten dengan sikap dan prilaku mereka.
b. Pemilihan
Perhatian (Selective Attention)
Merujuk pada melihat informasi secara konsisten begitu
konsisten itu ada.Orangmemperhatikan informasi dalam
lingkungannya yang sesuai dengan sikap dan keyakinannya sementara tidak
menghiraukan informasi yang tidak konsisten.
c.
Interpretasi Selektif (Selective Interpretation)
Melibatkan
penginterpretasikan informasi yang ambigu sehingga menjadi konsisten. Dengan
menggunakan interpretasi selektif, kebanyakan orang menginterpretasikan sikap
teman dekatnya sesuai dengan sikap mereka sendiri daripada yang sebenarnya
terjadi(Bescheid&Walster,1978).
d. Retensi Selektif
(Selective Retention)
Merujuk pada mengingat dan mempelajari informasi yang
konsisten dengan kemampuannya yang lebih besar dibandingkan yang kita akan lakukan
terhadap informasi yang konsisten dengan kemampuan yang lebih besar
dibandingkan yang kita lakukan terhadap informasi yang tidak konsisten.
Ada
banyak cara untuk mengatasi disonansi kognitif, namun cara yang paling efektif
untuk ditempuh adalah:
a. Mengurangi
pentingnya keyakinan disonan kita.
b. Menambahkan
keyakinan yang konsonan.
c. Menghapus
disonansi dengan cara tertentu.
Aronson
dan Festinger (1968; 1957; dalam Sarwono, S.W., 2009) mengemukakan tiga
mekanisme yang dapat digunakan untuk mengurangi disonansi kognitif, yaitu:
- Mengubah
sikap atau perilaku menjadi konsisten satu sama lain. Seorang lesbian yang
tinggal di lingkungan yang sangat keras menentang homoseksualitas,
misalnya, dapat mengaplikasikan mekanisme ini dengan dua cara, yaitu: (1)
mengubah orientasi seksualnya atau setidaknya berpura-pura menjadi
heteroseksual; atau (2) pindah ke lingkungan lain yang lebih bisa menerima
diri dan orientasinya.
- Mekanisme
yang kedua adalah mencari informasi baru yang mendukung sikap atau
perilaku untuk menyeimbangkan elemen kognitif yang bertentangan.
Misalnyanya seorang lesbian mencari informasi tentang perilakunya yang
menyimpang di lihat dari sudut sosial, mencari pembenaran dengan hal yang
serupa. Misalnya, sebut aja disini artikel SepociKopi, membaca artikel
ini, mungkin kamu tanpa sadar sedang menjalankan mekanisme tersebut. Atau
cari info lain yang juga bisa menemukan beberapa artikel argumentatif yang
mengemukakan bahwa homoseksualitas sebenarnya tidak bertentangan dengan
agama tertentu. Berusaha mencari artikel sejenis untuk menenangkan diri
atau dijadikan dasar argumen ketika berdiskusi dengan orang lain juga
merupakan aplikasi dari mekanisme di atas.
- Mekanisme
yang terakhir adalah trivialization yang berarti mengabaikan atau
menganggap ketidaksesuaian antara sikap atau perilaku penyebab disonansi
sebagai hal yang biasa. Kamu menjalankan mekanisme ini ketika kamu
berusaha tidak peduli, dan tetap berusaha menjalani hari-hari sesuai
dengan norma yang ada, meskipun tetap menjalankan kehidupan sebagai
lesbian misalnya.
B. Pengertian Psikososial
Menurut Para Ahli
1.
Hubert Bonner
Menurut Hubert Bonner dalam
bukunya “Social Psychology”,psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang tingkah laku manusia.
2.
Gordon Allport
Pada tahun 1985,Gordon Allport
mengemukakan bahwa psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha
memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan,dan tingkah laku seseorang
dipengaruhi oleh kehadiran orang lain,baik secara nyata atau aktual, dalam
bayangan atau imajinasi, dan dalam kehadiran yang tidak langsung (implied).
3.
A.M. Chorus
Psikologi sosial adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
4.
David O Sears
Psikologi sosial adalah ilmu yang
berusaha secara sistematis untuk memahami perilaku sosial mengenai bagaimana
kita mengamati orang lain dan situasi sosial, bagaimana orang lain bereaksi
terhadap kita, dan bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial.
5.
Berhm dan Kassin
Psikologi sosial adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari cara individu berpikir,merasa, dan bertingkah laku
dalam setting sosial.
6.
Sherif dan Sherif
Pengertian psikologi sosial
menurut Sherif & Sherif dalam bukunya yang berjudul An Outline of Social
Psychology adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman dan tingkah laku
individu manusia dalam kaitannya dengan situasi-situasi perangsang sosial.
Dalam definisi ini, tingkah laku telah dihubungkan dengan situasi-situasi
perangsang sosial.
7.
Sherif dan Musfer
Menurut pendapat Sherif &
Musfer pada tahun 1956, psikologi sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan
perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial. Dalam
definisi ini, stimulus sosial diartikan bukan hanya manusia, tetapi juga
benda-benda dan hal-hal lain yang diberi makna sosial.
8.
Jones dan Gerard
Menurut Jones & Gerard pada
tahun 1967, psikologi sosial adalah sub disiplin dari ilmu psikologi yang fokus
pada studi ilmiah tentang perilaku individu yang berfungsi sebagai perangsang
sosial.
9.
Michener dan Delamater
Menurut Michener & Delamater
yang diungkapkan pada tahun 1999, psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang
sebab-sebab dari perilaku sosial manusia.
10.
Hartley
Menurut Hartley yang diungkapkan pada
tahun 1961, psikologi sosial adalah cabang ilmu sosial yang berusaha memahami
perilaku individu dalam konteks sosial.
11.
Mc Grath
Psikologi sosial merupakan
pengkajian saintifik berkenaan dengan tingkah laku.
12.
Shaw dan Costanzo
Menurut Shaw dan Costanzo yang
dikemukakan pada tahun 1970, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang sosial.
13.
Baron dan Byrne
Menurut Baron & Byrne pada
tahun 2006, psikologi sosial adalah bidang ilmu yang mencari pemahaman tentang
asal mula dan penyebab terjadinya pikiran serta perilaku individu dalam
situasi-situasi sosial. Definisi ini menekankan pada pentingnya pemahaman
terhadap asal mula dan penyebab terjadinya perilaku dan pikiran.
14.
Mc. David dan Harrari
Menurut Mc. David dan Harrari
pada tahun 1968, psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang pengalaman dan
perilaku individu dalam kaitannya dengan individu lain, kelompok, dan budaya.
15.
Krech, Crutchfield, dan Ballachey
Menurut Krech, Crutchfield, dan
Ballachey yang dikemukakan pada tahun 1962, psikologi sosial dapat
didefinisikan sebagai ilmu tentang peristiwa perilaku interpersonal.
16.
Myers
Menurut Myers yang diungkapkan
pada tahun 1990, psikologi sosial adalah pengetahuan tentang bagaimana orang
berpikir, mempengaruhi, dan berhubungan dengan orang lain.
17.
Kenneth J. Gergen dan Mary Gergen
Psikologi sosial didefinisikan
sebagai satu disiplin ilmu yang merujuk kajian sistematik ke atas hubungan
interaksi sesama manusia.
18.
Boring, Langveld, dan Weld
Menurut Boring, Langveld, dan
Weld dalam bukunya yang berjudul Foundations of Psychology, psikologi sosial
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari individu manusia dalam kelompoknya dan
hubungan antara manusia dengan manusia.
19.
Watson
Menurut Watson pada tahun 1966,
psikologi sosial adalah ilmu tentang interaksi manusia.
20.
Brigham
Menurut Brigham pada tahun 1991,
psikologi sosial adalah pengetahuan tentang perilaku saling pengaruh
mempengaruhi antar individu atau kelompok individu.
21.
Kimball Young
Menurut Kimball Young pada tahun
1956, psikologi sosial adalah studi tentang proses interaksi individu manusia.
22.
Dewey dan Huber
Menurut Dewey & Hubber pada
tahun 1916, psikologi sosial adalah studi tentang manusia individual, ketika berinteraksi,
biasanya secara simbolis dengan lingkungannya, yaitu dengan lambang yang
digunakan oleh manusia untuk saling berinteraksi, misalnya: kata-kata, huruf,
rambu-rambu, lalu lintas, papan nama, dan lain-lain.
23.
Joseph E. Mc. Grath
Menurut Joseph E. Mc. Grath pada
tahun 1965, psikologi sosial adalah ilmu yang menyelidiki tingkah laku manusia
sebagaimana dipengaruhi oleh kehadiran,keyakinan, tindakan,dan lambang-lambang
dari orang lain.
24.
Secord dan Backman
Menurut Secord & Backman pada
tahun 1974, psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari individu dalam
konteks sosial.
Ø
Menurut saya
psikologi sosial Merupakan Ilmu yang mempelajari tentang tingkah
laku,caraberfikir dan bertindak dengan kaitannya dengan lngkungan sosial.
YUNICA DAMAYANTI
50300115091
Kessos C
Sabtu, 17 September 2016
Pengalaman Liburan Idul Adha
Hari
Raya Idul Adha ditetapkan pada hari senin,12 September 2016.Dimana hari itu
merupakan hari kemenangan umat Islam.Lebaran Idul Adha tahun ini saya tidak
menunaikannya bersama kedua orang tuaku dan kedua adikku,karena jadwal kuliah
yang sangat padat.Lebaran tahun ini saya menunaikannya bersama tante yang ada
dimakassar tempat saya tinggal.Aku menunaikan shalat Idul Adha dilapangan SMAN
10 Makassar yang berjarak 120meter dari rumah tempat saya tinggal.Akupun mandi
dan berwudhu lalu bersiap-siap untuk ke lokasi shalat ied.Kami pun berjalan
menuju lapangan dan gema suara takbir terdengar sangat indah dan membuat bulu
merinding.Setelah sampai dilapangan tidak lama kemudian shalat Ied
dimulai.Setelah shalat Ied kami pun mendengarkan khutbah,setelah selesai
mendengarkaan khutbah kami pun pulang menuju rumah,diperjalan menuju rumah kami
bersalaman dan meminta maaf dengan orang-orang yang ada disekitar kita.Beberapa
menit kemudian kami tiba dirumah dan saya langsung menelpon kedua orang tua
saya untuk meminta maaf kepada mereka.Kami pun mempersiapka menu lebaran untuk
para tamu yang ingin datang kerumah kami.Pada hari selasa,13 september
2016 aku tidak kemana-mana.Aku hanya tinggal dirumah menjaga ponakan.
Langganan:
Komentar (Atom)