Minggu, 07 Mei 2017

PMKS

Nama : Yunica Damayanti
Nim : 50300115091
Jurusan : PMI Kons. Kesejahteraan Sosial
Angkatan 2015 UIN Alauddin Makassar



1.       Empat Balita “Terlantar” Di Panti Asuhan Tunas Bangsa
Judul       : PMKS (Anak Balita Terlantar)
                 “Empat Balita “Terlantar” Di Panti Asuhan Tunas Bangsa”
Waktu     : 2 Mei 2017 23.42 WIB
                  4 Februari 2015  10.55 WIB,Lokasi kejadian di Cipayung Jakarta Timur
Sumber   : Internet berita SindoNews.com 
Isi Berita :
Empat dari sembilan di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa terlantar lantaran belum diketahui identitas keluarganya.Semuanya itu merupakan hasil dari penjangkauan dan penemuan di rumah warga.
Hal itu disampaikan Kepala PSAA Balita Tunas Bangsa Vivi Kafilatul Jannah.Kemudian kata dia,bayi-bayi itu dibawa ke rumah sakit oleh pihak kepolisian, hingga akhirnya di rujuk ke PSAA Balita Tunas Bangsa.
Dia menyatakan, pihaknya hingga kini masih terus mencari sanak keluarga dari anak-anak itu.Selain itu, pihaknya selalu memberikan perawatan kepada sembilan anak terlantar tersebut.
“Kami juga mengupayakan agar masyarakat yang merasa memiliki hubungan keluarga dengan anak itu,bisa bertemu dengan balita terlantar ini.Karena perawatan terbaik adalah perawatan keluarga,panti hanya alternatif terakhir.”kata Vivi di Jakarta,Rabu (4/2/2015).
Vivi menambahkan,masyarakat yang memang memiliki hubungan darah dengan bailta tersebut bisa mendatangi langsung PSAA Balita Tunas Bangsa di Jalan Raya Bina Marga Nomor 79 Cipayung,Jakarta Timur,atau menghubungi di nomor telpon. 021-8445651.‎
“Kepada keluarga dan kerabat anak tersebut,bisa mengambil mereka tanpa biaya perawatan.Asal membawa bukti otentik sebagai orang tua kandung,”terangnya.
Anak-anak balita tersebut adalah sebagai berikut :
1.   Mila(perempuan),Anak dari Ibu Karmila yang tidak diketahui keberadaannya.Hasil rujukan dari Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 pada tanggal 12 November 2014.
2.   Dicki Permana (laki-laki),Anak dari Ibu Dewi yang tidak diketahui keberadaannya. Hasil rujukan dari Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Bambu Apus 11 Desember 2014.
3.   Syawal Agustin (laki-laki),Tidak diketahui keluarganya,ditemukan di pangkalan ojek H Dul Jalan Pedurenan,Kelurahan Karet Kuningan,Kecamatan Setiabudi, pada tanggal 16 Agustus 2014.
4.   Dini Maharani (perempuan),Tidak diketahui keluarganya,ditemukan di teras rumah warga Kelurahan Tengah,Kecamatan Kramat Jati,Jakarta Timur.Dirujuk pada tanggal 30 Oktober 2014 oleh Polsek Kramat Jati.
5.   Malika Faiza (perempuan),Anak dari pasangan Ibu Siti Maratun dan Bapak Ririn Setiono dari Jati Bunder,Jakarta Pusat.Rujukan dari RSIA Budi Kemulyaan pada tanggal 21 Oktober 2014.
6.   Riswana Salsabila (perempuan),Anak dari Ibu Anisah dan Bapak Fajar Eko Yulianto dari Kelurahan Tanjung Duren, Jakarta Barat.Rujukan dari RSIA Budi Kemulyaan pada tanggal 22 Desember 2014.
7.   Habibi Syauqi (laki-laki),Tidak diketahui keluarganya.Rujukan dari Polres Sawah Besar, Jakarta Pusat.
8.   Topan (laki-laki),Tidak diketahui keluarganya, hasil penjangkauan Satpol PP Kecamatan Gambir, dan dibawa ke PSBI BD 1 kemudian dirujuk ke PSAA Balita Tunas Bangsa pada tanggal 15 Januari 2015.
9.   Arkan (laki-laki),Orang tua dirawat di Panti Sosial Bina Laras Cengkareng.Hasil rujukan dari RSUD Koja, Jakarta Utara.

Kritik :
Kurangnya perhatian pemerintah mengenai hal penelantaran balita.
Saran :
Ketika pemerintah mendengar kabar balita terlantar ini sebaiknya pemerintah langsung turun menangani masalah ini.

2.       Longsor Dan Angin Puting Beliung Kembali Landa Bogor
Judul       : PMKS (Korban Bencana Alam)
                  “Longsor Dan Angin Puting Beliung Kembali Landa Bogor
Waktu     : 3 Mei 2017     22.57 WIB
             1 Maret 2017  08.14 WIB,Lokasi Bogor Jawa Barat
Sumber   : Internet berita Liputan6.com 
Isi Berita :
Longsor dan angin puting beliung kembali melanda Kota Bogor,Jawa Barat.Bencana alam terjadi setelah hujan deras disertai angin kencang pada Selasa sore kemarin.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor melaporkan peristiwa pertama angin puting beliung terjadi di RT 04/RW 03 Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal.
Dua rumah milik Imah dan Aduh rusak pada bagian atap akibat diterpa angin kencang.
Tak hanya itu,sejumlah pohon di dekat rumah warga pun bertumbangan hingga menimpa beberapa rumah warga wilayah tersebut.Pohon bambu berukuran besar tumbang sampai akarnya.Dan pohon keras tumbang menutupi jalan warga.
"Tidak ada korban jiwa.Namun rumah warga rusak akibat tertiup angin dan tertimpa pohon tumbang," kata Kepala BPBD Kota Bogor,Ganjar Gunawan, Rabu (1/3/2017).
Longsor juga terjadi di Jalan Tentara Pelajar, Cimanggu, Kecamatan Tanah, Sareal.Longsor mengakibatkan trotoar jalan amblas hingga kedalaman satu meter.Tak hanya trotoar, pagar milik Balitro pun rusak tergerus longsor.
Panjang trotoar yang amblas diperkirakan lebih dari 10 meter. Peristiwa itu terjadi saat hujan mengguyur kawasan Bogor.
Sebelumnya, 33 kasus bencana alam juga terjadi di Kota Bogor pada Senin 27 Februari.Peristiwa didominasi longsor,banjir dan kebakaran.
Tiga warga meninggal dunia, satu karena tertimbun longsor dan dua orang lainnya terseret banjir akibat luapan saluran air dari anak Kali Cipakancilan.
Kritik :
Kurangnya perhatian pemerintah terhadap lokasi-lokasi yang rawan akan bencana longsor
Saran :
Sebaiknya pemerintah mengevakuasi warga yang bertempat tinggal di daerah yang rawan akan bencana longsor.

3.       Pengakuan Gelandangan Yang Nyaris Tewas Gara-Gara Hoax
Judul       : PMKS (Gelandangan)
                  “Pengakuan Gelandangan Yang Nyaris Tewas Gara-Gara Hoax
Waktu     : 4 Mei 2017     00.02 WIB
             8 Maret 2017  20.04 WIB,Lokasi Kejadian di Brebes Semarang
Sumber   : Internet berita Liputan6.com 

Isi Berita :
Seorang gelandangan pria paruh baya yang menjadi korban amukan masa yang termakan berita bohong atau hoax masih tergolek lemah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Brebes,Jawa Tengah sejak Selasa malam,7 Maret 2017. Kabar hoax yang membuat warga termakan itu soal adanya informasi penculikan anak yang dilakukan oleh orang-orang yang berpura-pura gila.
Korban dirujuk ke RSUD Brebes setelah sebelumnya mendapat perawatan medis di RS Dera Asyifa Banjarharjo.Dia dirawat dalam keadaan babak belur usai diamuk massa warga setempat dengan cara yang keji. 
Korban ditangkap dan dianiaya oleh puluhan warga.Kekejian warga dilakukan dengan menggantung korban seperti hewan yang hendak disembelih, dengan posisi kedua kakinya diikat sebatang bambu dan kepala berada di bawah.
Setelah digantung di sebilah bambu,sejumlah warga memikul tubuh pria paruh baya berpenampilan kumal itu diarak keliling desa.Semua gara-gara informasi hoax yang beredar tak terbendung di media sosial.
Informasi yang diterima Liputan6.com,pria paruh baya itu bernama Toyo dan berusia 45 tahun.Dia warga Kuningan,Jawa Barat.Toyo merupakan gelandangan yang hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki.
Tak ada bukti bahwa Toyo penculik anak yang dituduhkan oleh sejumlah masyarakat setempat.Menurut petugas medis yang merawatnya,ia tidak mengalami gangguan jiwa dan mental.
"Bapak Toyo ini bisa diajak komunikasi.Ditanya namanya siapa,dari mana, punya keluarga apa tidak,juga nyambung kok," ucap seorang petugas medis yang namanya enggan disebut di RSUD Brebes, Rabu (8/3/2017).
Gara-gara disangka penculik anak,seorang gelandangan penderita gangguan jiwa nyaris tewas karena disiksa dan diarak keliling kampung di Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jateng. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)
Berdasarkan pemeriksaan dokter RSUD Brebes,korban mengalami luka-luka di bagian kepala dengan diagnosis mengalami gegar otak ringan, lalu luka di bagian badan dan kaki akibat kekerasan benda tumpul.
"Ini dari hasil pemeriksaan visit dokter pagi tadi, Pak Toyo mengalami luka-luka di bagian kepala, lebam di badan, kakinya juga luka dan harus diperban," ujar petugas medis itu.
Toyo sendiri sempat mau berkomunikasi. Dia mengaku tidak tahu-menahu perihal penculikan anak yang dituduhkan kepadanya.
"Demi Allah Swt saya tidak melakukan itu (penculikan anak), saya berani bersumpah," ucap Toyo sembari menitikkan air mata. 
Menurut dia,tuduhan sebagai pelaku penculikan anak kepada dirinya merupakan fitnah yang keji dan tidak beralasan. 
"Saya ini memang gelandangan tidak punya rumah. Keluarga saya sudah enggak ada semua, istri sudah meninggal dan enggak punya anak, tapi (tuduhan penculik anak) itu fitnah," kata dia.
Perihal dia menggelandang juga bukan berarti dia mengalami gangguan jiwa. Dia juga tidak ada niat untuk mengganggu warga desa, apalagi sampai mau menculik anak sebagaimana informasi hoax yang beredar.
"Bingung mau ke mana, memang hidup saya jalan-jalan ke mana-mana. Keluarga juga sudah enggak ada semua," ujar Toyo.
Kritik :
Kurangnya sosialisasi oleh pihak kepolisian mengenai larangan menghakimi sendiri
Saran :
Sebaiknya warga mencari kebenaran berita tersebut Dan tidak menghakimi sendiri si pelaku Dan Membawanya ke pihak yang berwajib untuk diidentifikasi.
4.       Mbah Sadiyo,Pemulung Yang Ikhlas Menambal Jalan-Jalan Berlubang
Judul       : PMKS (Pemulung)
             “Mbah Sadiyo,Pemulung Yang Ikhlas Menambal Jalan-Jalan Berlubang”
Waktu     : 5 Mei 2017     22.33 WIB
             14 Maret 2017  18.31 WIB,Lokasi di Sragen jawa Tengah
Sumber   : Internet berita Liputan6.com 
Isi Berita :
Memikirkan kepentingan bersama layaknya menjadi sebuah sikap yang mahal harganya pada saat zaman serba materialis ini.Ikhlas menjadi modal berharga untuk selalu memikirkan kepentingan bersama.Itulah yang dilakoni Sadiyo Cipto Wiyono,warga Kabupaten Sragen,Jawa Tengah.
Dari sosok lelaki berusia 65 tahun itu ada sebuah pelajaran berharga dalam zaman yang serba individualis saat ini. Mbah Sadiyo, begitu sapaan akrabnya, menunjukkan bahwa keikhlasan menjadi buah kegembiraan dan bermanfaat untuk yang lain.
Hebatnya lagi,Mbah Sadiyo ini adalah seorang pemulung yang pekerjaannya memungut rongsokan di pinggir jalan.Tak hanya itu, ternyata kegiatan mulia yang dia lakoni adalah menambal jalan-jalan rusak yang tidak segera diperbaiki oleh pemerintah.Motivasi utama Mbah Sadiyo untuk menambal jalan agar orang lain tidak celaka.
Empati Mbah Sadiyo begitu tinggi. Sifat ini yang membuatnya tergerak menambal jalan rusak. Ihwal menambal jalan rusak itu berawal saat dirinya juga pernah merasakan musibah akibat jalan rusak.
Begini kisahnya.Pada 2012,Mbah Sadiyo begitu membutuhkan uang untuk arisan.Kala itu ia butuh uang Rp 300 ribu.Ia kemudian menjual rongsokan hasil pencariannya untuk mendapatkan uang.
Mbah Sadiyo kemudian membawa sejumlah barang rusak itu kepada juragannya.Namun saat di Jalan Gondang,Sragen,ia berebut jalan halus dengan pengendara sepeda motor.
Setelah memperbaiki jalan itu, ia kemudian menambal Jalan Tunjungan-Gondang.Ia menambal jalan itu lantaran ada kabar tetangganya jatuh di jalur tersebut,bahkan harus menjalani opname di rumah sakit.
Bagi Mbah Sadiyo,menambal jalan rusak bukan sebuah aktivitas untuk mencari popularitas, melainkan perbuatan penuh keikhlasan.
"Saestu (benar) saya tidak ingin cari-cari.Saya ikhlas melakukannya.Saya itu cuma mikirnya,kalau semisal jalan ditambal paling tidak itu bisa mengurangi kecelakaan," tutur dia.
Mbah Sadiyo menambal jalan saat dirinya mencari barang rongsok. Jadi di becak yang tiap hari menemaninya mencari barang rongsok, selalu tersedia pacul,serok, dan semen. Sementara untuk pasir, ia meminta-minta dari orang yang sedang renovasi rumah.
"Saya itu memang miskin. Insya Allah hati saya tidak miskin. Saya itu cari rongsok juga bukan dari rumah ke rumah, tapi di jalan-jalan.Saya menghindari hal tidak diinginkan. Yang penting saya ini tidak mencuri," kata dia.
Dari hasil kerja memulung, Mbah Sadiyo hanya mendapatkan duit sekitar Rp 150 ribu selama lima hari. Dari uang itu, ia lalu membelikan semen satu sak.Sisanya diberikan kepada istrinya untuk makan sehari-hari.
Ia juga kerap membantu tetangga yang sedang renovasi rumah.Dari pekerjaan itu, Mbah Sadiyo mendapatkan Rp 50 ribu.
"Enggak apa-apa, pokoknya hidup seadanya.Yang penting ada beras untuk makan," ujar sang penambal jalan yang juga menjadi penggali kubur saat ada tetangga yang meninggal itu.
"Jadi saya berebut jalan halus. Saya waktu itu bawa barang rongsok dengan becak saya ini.Nah yang naik motor enggak mau mengalah. Akhirnya saya yang mengalah dan becak saya malah terperosok ke kubangan. Pelek ban saya rusak, jadi angka delapan," Mbah Sadiyo mengenang.
Berawal dari kejadian pahit itulah, ia bernazar seandainya punya rezeki, ia akan menambal jalan yang rusak tersebut.Dan niat baik itu pun ada jalannya.Mbah Sadiyo lalu menambal Jalan Banaran-Gondang, Sragen, sejauh lima kilometer.
"Saya nambal itu dari tanggal 5 April hingga 11 Juni. Saya nambal itu juga beli pakai uang sendiri, pakai uang hasil jual rongsok," ucap sang penambal jalan itu saat ditemui Liputan6.com di rumahnya,kawasan Grasak,RT 42 RW11, Kecamatan Gondang,Sragen,beberapa hari lalu.

Kritik :
Kurangnya anggaran pemerintah mengenai perbaikan jalan raya sehingga menyebabkan banyak pengendara yang mengalami kecelakaan.
Saran :
Sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan perbaikan jalanan raya untuk mengurangi tingkat kecelakaan.
5.       Lapar,Seorang Ayah Lempar Bayinya Ke Tungku
Judul       : PMKS (Korban Tindak Kekerasan)
             “Lapar,Seorang Ayah Lempar Bayinya Ke Tungku”
Waktu     : 6 Mei 2017      21.27 WIB
             25 April 2017  13.51 WIB,Lokasi Kejadian Sukabumi Jawa Barat
Sumber   : Internet berita Liputan6.com 
Isi Berita :
Seorang ayah di Sukabumi,Jawa Barat melempar bayinya yang baru berusia 1,5 bulan ke dalam tungku panas.Aksi sadis ini dipicu emosi karena tak kuat menahan lapar.
Pria warga Kampung Sijngkup,Desa Cisitu,Kecamatan Nyalindung, Sukabumi itu melempar bayinya ke tungku api karena tak tahan menahan lapar dan emosi melihat sang istri belum memasak nasi saat pulang bekerja.
Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Selasa (25/4/2017), sang bayi dilempar sejauh dua meter.
Sang ibu Yeni yang melihat bayinya terluka langsung membawa anaknya ke puskesmas.Namun akibat luka yang dideritanya cukup parah,korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamsudin Kota Sukabumi.
Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung mengamankan sang ayah dan menyerahkannya kepada aparat kepolisian.
Kapolsek Nyalindung AKP D Majmudin menegaskan,pihaknya hingga kini masih menyelidiki kasus penganiayan terhadap bayi itu.Ia menduga, perbuatan tersebut dipicu persoalan ekonomi.
"Bayi itu dilempar ke tungku untuk memasak nasi.Korban ada luka di bagian muka,kaki mungkin benturan akibat lemparan di pelaku," ujar AKP D Majmudin.
Menurut warga sekitar,pelaku baru empat bulan tinggal di kawasan itu dan tidak memiliki pekerjaan tetap.
Kritik :
Kurangnya perhatian Pemerintah terhadap warga yang kurang mampu.
Saran :
Sebaiknya Pemerintah lebih memerhatikan perekonomian warganya agar dapat mencegah tindak kekerasan karena persoalan ekonomi.
6.       ABG Cantik Menghilang,Diduga Korban Trafficking
Judul       : PMKS (Korban Trafficking)
                  “ABG Cantik Menghilang,Diduga Korban Trafficking”
Waktu     : 7 Mei 2017     19.03 WIB
             5 Mei 2017     23.38 WIB,Lokasi Kejadian di Tombulu Minahasa Manado
Sumber   : Internet Beritakawanua.com
Isi Berita :
Seorang anak baru gede (ABG), ingga (14) nama samaran,dilaporkan menghilang dari rumahnya di salah satu desa di Kecamatan Tombulu Minahasa. Korban diduga menjadi korban trafficking atau perdagangan manusia.
Kasus ini kini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Manado, setelah dilaporkan kedua orang tuanya,Jumat (5/5/2017) sore. Dalam laporan disebutkan,korban telah menghilang sejak Rabu (3/5/2017) siang.
Berdasarkan laporan di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), awalnya anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMP ini berpamitan kepada orang tuanya untuk mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya.Namun kecurigaan muncul karena hingga malam korban tidak juga pulang ke rumah.
Ayah korban lalu berusaha mencari anaknya dengan bertanya kepada teman-teman korban.Namun hingga larut malam,tidak ada yang mengetahui keberadaan gadis berkulit putih dan berparas cantik ini.
Sampai akhirnya,ada warga memberitahukan kalau korban sempat terlihat bersama perempuan berinisial JL alias Ika (20-an), warga yang sama. Warga itu menyebut keduanya sedang berada di salah satu pangkalan ojek di desa itu.
Dari informasi itu, ayah korban kembali mendapatkan kabar dari salah satu tukang ojek yang mengaku mengantar keduanya ke Pelabuhan Manado.
Belakangan,ayah korban mendapatkan telpon dari anaknya yang berbicara sambil menangis dan ketakutan,Jumat pagi tadi.Korban menceritakan kalau dirinya sekarang sedang berada di kompleks Pelabuhan Lirung Kabupaten Talaud.
Kasubag Humas Polresta Manado,AKP Roly Sahelangi membenarkan adanya laporan tersebut.Tapi dalam laporan itu baru dugaan membawa lari anak gadis.
"Sudah diserahkan ke Unit PPA untuk dikembangkan adanya kemungkinan kasus ini berhubungan dengan trafficking," tandas mantan Kapolsek Pineleng ini.
Kritik :
Kurangnya tindakan oleh Pihak Unit Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPA) dan Polresta Manado.
Saran :

Sebaiknya Pihak Unit Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPA) dan Polresta Manado langsung mengecek lokasi yang diberitahukan oleh korban agar korban cepat ditemukan.






Sumber :